Custom Search

Jumat, 18 April 2008

Pandangan umum terhadap filsafat


Filsafat secara umum memiliki berbagai macam pembagian sesuai dengan bidang pembicaraannya, namun dari sisi metode dikenal ada empat macam metode yang paling populer, yaitu hikmah argumentatif, hikmah intuitif, hikmah ekprimental dan terakhir hikmah dialektis.

Apa dan bagaimana ke empat metode ini bekerja, yuk kita lihat garis besarnya dulu...
Kita mulai dari hikmah argumentatif…
Bagaimanakah cara kerja metode hikmah argumentatif ini?
Metode hikmah argumentatif bekerja dengan penekanan kepada silogisme berpikir, artinya metode ini bekerja dengan menitik beratkan penelaahan kepada hal-hal yang bersifat umum (universal) terlebih dahulu, baru kemudian ke hal-hal dibawahnya yang lebih khusus, dan kemudian baru bisa mengambil satu kesimpulan sebagai hasil akhirnya...

Misalnya ;
Semua manusia tinggal di planet yang bernama bumi (umum).
Alexander adalah manusia (khusus)
Jadi Alexander tinggal di planet yang bernama bumi…

Contoh diatas Cuma contoh kecil, kalau mau contoh yang lebih ditail, nanti akan kita bahas jika ada kesempatan 

Ciri khas dari hikmah argumentatif ini adalah kekonsisten-an-nya terhadap penggunaan penalaran (rasio) sebagai pijakan, baik argumentatif rasional maupun demonstratif rasional.

Kegunaan dari metode semacam ini adalah untuk mengetahui dan mengukur hal-hal yang nyata-nyata tidak bisa terlihat dan terdengar dengan panca indra kita. Misalnya, apakah ada hidup setelah mati?

Bagaimana kita bisa mengetahui ini? Setelah ditulis di kitab suci, apakah kemudian tulisan dikitab suci itu bisa langsung membuktikan kepada kita tentang adanya kehidupan setelah mati? Atau apakah dengan tulisan dikitab suci itu kita bisa langsung merasakan atau melihat hidup setelah mati itu? Tentu saja panca indra kita tidak mampu membuktikan apapun tentang ‘cerita’ hidup setelah mati, dan ‘cerita’ seperti itu hanya bisa dibuktikan dengan penalaran (rasio) yang OK punya 

Sekarang yang berikutnya, yaitu metode hikmah intuitif. Apakah yang disebut-sebut sebagai hikmah intuitif itu? Mari kita lihat sekilas tentang cara kerja dari metode hikmah intuitif ini.

Hikmah intuitif ini lebih ‘lengkap’ dalam menggunakan ‘perkakas/alat’ kerjanya  , ini bisa dilihat dari tambahan alat yang dimilikinya yaitu cita rasa (dzawqi) , inspirasi (ilham) , dan pencerahan (isyraq) sebagai alat kerja tambahannya selain penggunaan argumentasi rasional dan demonstrasi rasional.

Dalam memutuskan satu perkara, penganut metode intuitif dikenal lebih banyak menggunakan ‘alat’ yang bernama inspirasi (ilham) sebagai dasar keputusan nya dibandingkan dengan penalaran (rasio) . Penggunaan ilham ini adalah ciri khas dari metode intuitif ini.

Lain lagi dengan metode yang ketiga, yaitu hikmah eksprimental. Metode ini sangat digemari oleh masyarakat modern sekarang ini, kenapa demikian dan kenapa harus demikian ? dan kenapa dari jaman kejaman manusia lebih suka dengan metode ini? Mari kita lihat lebih dekat lagi tentang cara kerja metode hikmah eksprimental ini.

Secara ringkas bisa dikatakan bahwa cara kerja metode hikmah ekprimental ini lebih ‘gampang’ disajikan karena metode ini hanya mengandalkan panca indra sebagai ‘alat’ kerjanya. Metode hikmah ekprimental tidak memerlukan pemikiran yang ‘ribet’ semacam silogisme (deduksi) dan inspirasi (ilham) sebagai pijakannya dalam menghasilkan pengetahuan. Urusannya hanya dengan uji coba dan pembuktian dengan panca indra sampai terbukti dan membentuk hikmah dan filsafat.

Tidak perlu repot-repot harus tahu dulu asal usul suatu objek secara universal, penguna metode ekprimental ini cukup mengambil sample dari objek yang akan diteliti, misalnya , ambil kaca pembesar atau bawa kelaboraterium atau bawa kedepan orang ramai, diuji, dicoba, diuji, dilihat, dipikirin sebentar, uji lagi…ngobrol bentar…uji lagi , lihat, saksikan, rasakan dan selesai. Hubungakan satu sama lain sampai tercipta suatu hikmah atau pengetahuan 

Dan perlu kita akui, bahwa metode ekprimental ini sangatlah membantu peradaban dunia. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa revolusi industri dan teknologi saat ini tidak terlepas dari kekuatan metode ini.

Namun kita harus tahu, selain mempunyai kelebihan terhadap revolusi industri dan telekomunikasi, metode ini juga memiliki dua kelemahan vital, yaitu pertama ; Metode eksprimental ini tidak mempunyai kemampuan untuk menguji hal-hal yang tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera. Yang kedua, metode ini juga tidak mampu untuk mengukur hal-hal yang terhalang dengan masa (zaman) seperti misalnya, kapankan alam semesta ini bermula dan dimanakah letak tempatnya alam semesta ini berakhir?

Belum ada satupun mikroskop atau laboratorium yang mampu memperlihatkan kepada kita bongkahan jawaban yang bisa dikenali oleh panca indra kita 

Setelah kita lihat garis besar dari ketiga metode diatas, sekarang kita lihat metode yang ke empat, yaitu metode hikmah dialektis.

Hikmah dialektis lebih menekankan kepada apa-apa yang disebut sebagai hal yang yang populer atau figurcentris mengenai berbagai permasalahan alam dan universal. Metode ini banyak menjadi perbincangan dikalangan logikawan karena melibatkan banyak premis-premis yang memerlukan rumusan tersendiri. Pada metode ini banyak jawab menjawab terjadi antara ahli kalam (tawawuf) dengan filsuf.

Disini pembicaraan lebih ramai di sekitar hal-hal yang esktemporal dengan popularitas sebagai tumpuan dalam menghasilkan pengetahuan hikmah dan filsafat.

Misalnya kita mengetahui secara umum (sudah populer) bahwa menguap didepan umum atau didepan mertua adalah tidak baik  . Pendapat menguap ‘tidak baik’ ini adalah perkara yang populer, bukan pada hakikat hikmah.

Beda dengan hal yang ekstemporal, misalnya kita mengetahui bahwa jika si A dan si B sama dengan si C, maka ketiganya adalah sama. Maksudnya jika ada dua hal sama dengan hal yang ketiga, maka sebenarnya ketiganya adalah sama 

Atau dalam kalau dlam rumus akan jadi begini : ‘sama dengan sama adalah sama.’

Jadi…

Sampai disini kita bisa melihat corak dari keempat metode yang dibicarakan secara garis besarnya. Dan mungkin lain waktu kita akan membicarakan ada apa lagi setelah kita mengenal keempat metode hikmah ini.

Oleh Alexander Soebroto

Artikel Sejenis :



Tidak ada komentar: