Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 September 2010

Peran Pendidikan Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena didukung oleh sejumlah fakta positif yaitu posisi geopolitik yang sangat strategis, kekayaan alam dan keanekaragaman hayati, kemajemukan sosial budaya, dan jumlah penduduk yang besar. Oleh karena itu, bangsa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat. Namun demikian, untuk mewujudkan itu semua, kita masih menghadapi berbagai masalah nasional yang kompleks, yang tidak kunjung selesai. Misalnya aspek politik, di mana masalahnya mencakup kerancuan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, kelembagaan Negara yang tidak efektif, sistem kepartaian yang tidak mendukung, dan berkembangnya pragmatism politik. Lalu aspek ekonomi, masalahnya meliputi paradigm ekonomi yang tidak konsisten, struktur ekonomi dualistis, kebijakan fiskal yang belum mandiri, sistem keuangan dan perbankan yang tidak memihak, dan kebijakan perdagangan dan industri yang liberal. Dan aspek sosial budaya, masalah yang terjadi saat ini adalah memudarnya rasa dan ikatan kebangsaan, disorientasi nilai keagamaan, memudarnya kohesi dan integrasi sosial, dan melemahnya mentalitas positif.


Dari sejumlah fakta positif atas modal besar yang dimiliki bangsa Indonesia, jumlah penduduk yang besar menjadi modal yang paling penting karena kemajuan dan kemunduran suatu bangsa sangat bergantung pada faktor manusianya (SDM). Masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya juga dapat diselesaikan dengan SDM. Namun untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi untuk menjadi Indonesia yang lebih maju diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter SDM yang kuat. Salah satu aspek yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan karakter SDM yang kuat adalah melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggungjawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani. Manusia yang berakhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun. Bangsa Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan kemilau pentingnya pendidikan, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan SDM Indonesia secara berkelanjutan dan merata.
Melihat kondisi sekarang dan akan datang, ketersediaan SDM yang berkarakter merupakan kebutuhan yang amat vital. Ini dilakukan untuk mempersiapkan tantangan global dan daya saing bangsa. Memang tidak mudah untuk menghasilkan SDM yang tertuang dalam UU tersebut. Persoalannya adalah hingga saat ini SDM Indonesia masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Misalnya untuk kasus-kasus aktual, masih banyak ditemukan siswa yang menyontek di kala sedang menghadapi ujian, bersikap malas, tawuran antar sesama siswa, melakukan pergaulan bebas, terlibat narkoba, dan lain-lain. Di sisi lain, ditemukan guru, pendidik yang senantiasa memberikan contoh-contoh baik ke siswanya, juga tidak kalah mentalnya. Misalnya guru tidak jarang melakukan kecurangan-kecurangan dalam sertifikasi dan dalam ujian nasional (UN). Kondisi ini terus terang sangat memilukan dan mengkhawatirkan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka sejak tahun 1945. Memang masalah ini tidak dapat digeneralisir, namun setidaknya ini fakta yang tidak boleh diabaikan karena kita tidak menginginkan anak bangsa kita kelak menjadi manusia yang tidak bermoral sebagaimana saat ini sering kita melihat tayangan TV yang mempertontonkan berita-berita seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, korupsi, dan penculikan, yang dilakukan tidak hanya oleh orang-orang dewasa, tapi juga oleh anak-anak usia belasan.
Mencermati hal ini, saya mencoba memberikan beberapa gagasan untuk penguatan mutu karakter SDM sehingga mampu membentuk pribadi yang kuat dan tangguh. Pembahasan ini akan mengacu pada peran pendidikan, terutama pendidik sebagai kunci keberhasilan implementasi pendidikan karakter di sekolah dan lingkungan baik keluarga maupun masyarakat.
Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, memiliki ’ketertarikan’ bergaul dengan WTS atau melakukan perampokan. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan prilaku sosial pelajar.
Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, yang meliputi keinginan untuk menyendiri, kurang kemauan untuk bekerja, mengalami kejenuhan, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sosial, ada kepekaan emosional, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappiare dalam Suyanto dan Hisyam, 2000: 186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.

Read More....

Senin, 09 Juni 2008

Hubungan IPS dengan ilmu Sosial Lain

Ilmu IPS dengan ilmu sosial yang lain mempunyai hubungan sebagai berikut :
1. IPS mengambil bahan-bahan dari ilmu sosial.
2. Tidak ada keharusan bahwa semua ilmu sosial perlu diturunkan dalam setiap pokok bahasan IPS, tapi disesuaikan dengan tujuan pengajaran dan perkembangan pesrerta didik.
- Jenjang pendidikan juga ikut menentukan jumlah dan bagian isi ilmu sosial yang akan diramu menjadi program IPS.
- Kesamaannya IPS dapat disusun dengan mengaitkan atau menggabungkan berbagai unsur ilmu sosial sehingga menjadi menarik.

Contoh :
- Keterkaitan IPS dengan Sosiologi

ilmu sosial dinamakan demikian karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya. ilmu sosial belum mempunyai kaedah-kaedah dan dalil-dalil tetap yang diterima oleh bagian terbesar masyarakat karena ilmu tersebut belum lama berkembang, sedangkan yang menjadi objeknya adalah masyarakat manusia yang selalu berubah-ubah. Karena sifat masyarakat yang selalu berubah-ubah karena hingga kini belum dapat diselidiki dan dianalisis secara tuntas hubungan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara lebih mendalam. IPS di sini banyak mengambil sumber atau dalil-dalil dari Sosiologi.

- Keterkaitan IPS dengan Politik
Ilmu politik merupakan salah satu dari kelompok besar ilmu sosial dan erat sekali hubungannya dengan disiplin ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, antropologi, ilmu hukum, ekonomi, dan geografi. Semua ilmu sosial mempunyai objek yang sama, yaitu manusia sebagai individu maupun anggota kelompok (group). Dengan hal tersebut sangat membuktikan bahwa politik juga mempunyai hubungan erat dengan IPS yang sasaran yang diselidiki manusia dalam kehidupan masyarakat.

* Perbedaan IPS dengan ilmu sosial:
Terletak pada tujuannya yakni :
IPS ini tujuannya lebih cenderung mengarah ke pendidikan (bersifat pendidikan) dan IPS di sini bukan untuk mencari sebuah teori namun mengambil teori dari ilmu sosial dan IPS ini juga merupakangeneralisasi dari ilmu sosial yang lain

* Persamaan IPS dengan ilmu sosial:
Persamaannya yakni mengenai objek yang dikaji, yakni manusia didalam lingkungan sosialnya.

Read More....

Rabu, 04 Juni 2008

Penelitian Pendidikan

Penelitian pendidikan pada umumnya mengandung dua ciri pokok, yaitu logika dan pengamatan empiris (Babbie, 1986:16). Metodologi dalam arti umum, adalah studi yang logis dan sistematis tentang prinsip-prinsip yang mengarahkan penelitian ilmiah. Dengan demikian, metodologi dimaksudkan sebagai prinsip-prinsip dasar dan bukan sebagai methods atau cara-cara untuk melakukan penelitian.

Tahapan-tahapan tertentu yang oleh Bailey disebut sebagai suatu siklus yang llazimnya diawali dengan:
1. pemilihan masalah dan pernyataan hipotesisnya (jika ada);
2. pembuatan desaian penelitian;
3. pengumpulan data;
4. pembuatan kode dan analisis data; dan diakhiri dengan intepretasi hasilnya.


Pelaksanaan penelitian bersifat dinamis: yaitu penelitian yang bersifat terbuka, dilakukan dengan berbagai pendekatan yang tidak kaku (rigit). Proses penelitian diketahuai adalah proses yang dinamis, artinya perkembangan suatu teori diawali dengan pemahaman terhadap teori itu sendiri, yang kemudian menghasilkan hipotesis, lalu dari hipotesis itu diperoleh cara untuk melakukan observasi, dan pada gilirannya observasi itu menghasilkan generalisasi. Atas dasar generalisasi inilah teori itu mungkin didukung atau ditolak.

Pemikiran Wallace dapat memuat daur pendekatan yang bersifat induktife dan pendekatan yang bersifat deduktife. Pendekatan induktif bermula dari keinginan peneliti untuk memberi makna kepada data hasil observasi dalam bentuk generalisasi empiris. Sedangkan, penelitian yang bersifat deduktif dibangun dari data-data kuantitatif-statistik yang berusaha mengadakan uji terhadap seperangkaian hipothesa yang menjadi asumsinya.

Prinsip-prinsip metode ilmiah adalah sebagian besar sama bagi setiap cabang ilmu pengetahuan. Sudah barang tentu perhatian pada segi penekanannya harus diberikan, tetapi hal ini tidak menyangkut prinsip-prinsip metode ilmiah (Vredenbregt, 1985: 59-60). Penelitian pendidikan sebenarnya suatu proses untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar konsep yang dijadikan bahan kajian dalam penelitian. Hubungan antar konsep itu ditunjukkan dalam sebuah hubungan ........Setiap konsep yang kembangkan sebagai variabel penelitian harus dapat menunjukkan beberapa indikator empirik yang ada dilapangan.

Read More....

Metode Ilmiah John Dewey

Cara-cara non-ilmiah (unscientific) membuat manusia membuat manusia tidak meruasa puas sehingga mereja menggunakan cara berpikir deduktif atau induktif. Kemudian orang mulai memadukan cara berpikir deduktif dan induktif, dimana perpaduan ini disebut dengan berpikir reflektif (reflective thinking). Metode ini diperkenalkan oleh John Dewey antara lain :

1. The Felt Need (adanya suatu kebutuhan): Seseorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaanya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.

2. The Problem (menetapkan masalah): Dari kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need diatas, diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan (kebutuhan). Penemuan terhadap kebutuhan dan masalah boleh dikatakan parameter yang sangat penting dan menentukan kualitas penelitian. Studi literatur, diskusi, dan pembimbingan dilakukan sebenarnya untuk men-define kebutuhan dan masalah yang akan diteliti.

3. The Hypothesis (menyusun hipotesis): Jawaban atau pemecahan masalah sementara yang masih merupakan dugaan yang dihasilkan misalnya dari pengalaman, teori dan hukum yang ada.

4. Collection of Data as Avidance (merekam data untuk pembuktian): Membuktikan hipotesis dengan eksperimen, pengujian dan merekam data di lapangan. Data-data dihubungkan satu dengan yang lain untuk ditemukan kaitannya. Proses ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis.

5. Concluding Belief (kesimpulan yang diyakini kebenarannya): Berdasarkan analisis yang dilakukan pada tahap ke-4, dibuatlah sebuah kesmpulan yang diyakini mengandung kebenaran, khususnya untuk kasus yang diuji.

6. General Value of the Conclusion (memformulasikan kesimpulan umum): Kesimpulan yang dihasilkan tidak hanya berlaku untuk kasus tertentu, tetapi merupakan kesimpulan (bisa berupa teori, konsep dan metode) yang bisa berlaku secara umum, untuk kasus lain yang memiliki kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan diatas.

Read More....

Sabtu, 24 Mei 2008

Tips Hidup Sehat

Ikutilah tips berikut ini untuk hidup sehat dan memiliki kualitas hidup yang baik, jalani hidup sehat mulai sekarang. Kesehatan adalah investasi yang sangat berharga. Karena itu, jadikanlah hidup sehat optimal sebagai kebiasaan Anda sehari-hari. Bagaimana Caranya ! Ikuti tips berikut ini :
1. Cukupilah Kebutuhan Gizi Anda
2. Hindarilah LemaK Berbahaya
3. Janganlah pernah Lupa Sarapan
4. Makan Sayur dan Buah yang cukup
5. Minum Air Minimal 8 Gelas Sehari
6. Pertahankan Berat Badan yang Ideal
7. Olah raga yang teratur
8. Cukup Istirahat
9. Hindarilah Rokok dan Minuman Beralkohol
10. Selalu Berpikir Positif
11. Luangkanlah Waktu Untuk Diri Sendiri
12. Perhatikanlah Kebersihan
13. Periksakanlah Kesehatan Anda Secara Teratur
14. Untuk Sumber Makanan, Minuman dan Suplemen pilihlah Bahan Alami
15. Mengkonsumsi Suplemen Sesuai Kondisi dan Kebutuhan Tubuh.

Read More....

SD Gratis


Laporan : Erlangga Djumena

Jakarta, KCM

Komisi X DPR berharap pendidikan untuk tingkat sekolah dasar (SD) dapat digratiskan setelah pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2005 mendatang. "Keinginan Komisi X DPR, dengan dana yang ada digratiskan saja. Jadi, ketahuan, yang ada pungutannya mana. Harapan kami, setelah APBN-P 2005 disahkan, SD dapat digratiskan," kata Ketua Komisi X Heri Akhmadi usai menghadiri acara Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Lebak Bulus, Senin (2/5).
Pemerintah telah mengajukan APBN-P 2005 terkait pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dengan pengurangan tersebut, dana subsidi BBM dialihkan untuk kompensasi pendidikan.

Menurut Heri, dengan dana cukup, tidak ada lagi sekolah yang meminta pungutan terhadap murid-muridnya. "Sekarang ini kan pungutannya macam-macam, buku dan sebagainya. Kalau murid tidak mampu memberikan sumbangan lebih, sama sekali tidak boleh menjadi alasan untuk dikeluarkan. Karena, sekolah akan memperoleh dana operasional pendidikan baik negeri maupun swasta," kata Heri.

Menurut Heri, tiap sekolah akan dibantu dana Rp20 juta hingga Rp30 juta per tahun. Dengan begitu, sekolah tidak lagi melakukan pungutan. "Kemarin, sekolah-sekolah hanya mendapatkan dari pemda. Nilainya sekitar Rp2 jutaan. Paling banyak Rp5 juta. Inilah yang akan diintervensi dari pusat. Kalau pemda mau nambah sih, tidak ada masalah," katanya.

Saat ini, lanjut Heri, ada beberapa daerah sudah menggratiskan ongkos pendidikan sampai dengan tingkat SMA. Antara lain, Minahasa dan Bitung. "Nah, pemerintah ingin men-support daerah-daerah yang belum mampu seagresif mereka," kata Heri.

Pada kesempatan itu, Heri juga mengatakan DPR mengusulkan kepada pemerintah agar mengeluarkan obligasi pendidikan untuk pembangunan sekolah-sekolah baru. "Kan dulu pernah. Waktu bank-bank kita kolaps, pemerintah berani mengeluarkan obligasi rekap bank. SD kita saat ini banyak yang rontok. Mengapa pemerintah tidak menerbitkan obligasi untuk membiayainya. Butuhnya kan tidak banyak. Hanya sekitar Rp18 triliun dibandingkan dengan bank-bank yang membutuhkan sampai Rp600 triliun," demikian Heri Akhmadi. (Prim)

Click (http://www.kompas.com/utama/news/0505/02/165705_.htm)

Read More....

Pendidikan Masih Jadi Komoditas Politik


Sampai saat ini sektor pendidikan masih dinilai menjadi sebatas komoditas politik para pengusaha baik di eksekutif maupun legislatif, sehingga dari waktu ke waktu sektor tersebut memang tidak pernah menjadi perhatian serius.

"Sektor pendidikan itu hanya jadi komoditas politik, perhatian terhadap sektor pendidikan hanya sebatas retorika dan pemanis bibir untuk kepentingan politik," kata Rektor Universitas Negeri padang (UNP) Prof DR Z Mawardi Effendi, MPd, di Padang, Sabtu.
Dikemukakan oleh Prof DR Z Mawardi Effendi, MPd kepada wartawan usai mewisuda sebanyak 1.875 lulusan UNP, menanggapi kenyataan minimnya anggaran sektor pendidikan yang dialokasikan pemerintah dan DPRD dalam APBD Sumatera Barat Tahun 2005.

Pemerintah Provinsi dan DPRD Sumbar hanya mengalokasi anggaran sektor pendidikan sekitar lima persen saja dari total belanja dalam APBD sebesar Rp 831,19 miliar dalam tahun 2005. Alokasi dana sebesar itu, menurut Mawardi Effendi, juga tidak seluruhnya bisa digunakan untuk membangun sektor pendidikan itu sendiri. "Yang benar-benar untuk pembangunan sektor pendidikan itu kurang dari satu persen, karena sebagian besar dari anggaran itu habis untuk membayar gaji," katanya.

Ia mengaku prihatin sekaligus menyayangkan kondisi tersebut. "Bagaimana tidak perhatin jika perhatian untuk dunia pendidikan itu tidak ada, sementara di luar sekolah pemerintah juga tidak menyediakan dana untuk sektor pendidikan," katanya.

Mawardi Effendi menilai pemerintah daerah bersama DPRD-nya tidak pernah benar-benar concern terhadap dunia pendidikan. Jika selama ini para penguasa mengatakan bahwa sektor pendidikan dan pembangunan sumberdaya manusia adalah sangat penting, menurut dia, hal itu sama sekli tidak terbukti jika berkaca kepada APBD.

"Kita bisa melihat political-will pemerintah benar yang tidak ada untuk dunia pendidikan, sementara lembaga pendidikan selalu menjadi objek yang dipersalahkan. Pemerintah hanya pentingkan 'output' tanpa memedulikan proses," ujarnya.

Rektor mengatakan, pendidikan seharusnya dapat dijadikan ideologi pembangunan bangsa, karena akan sangat mempengaruhi kualitas bangsa secara berkelanjutan.

Ketika ditanya apa jalan terbaik guna mengatasi minimnya anggaran pendidikan, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu sekolah-sekolah.

"Salah satu jalan keluar adalah dengan memberdayakan masyarakat, melalui komite sekolah misalnya. hanya itu jalan keluar pada saat pemerintah tidak lagi memperhatikan dunia pendidikan," demikian Z Mawardi Effendi. (Ant/O-1)

http://www.mediaindo.co.id/.

Read More....

Petisi Pendidikan Nasional

Kami, rakyat Indonesia, menandatangani petisi ini yang ditujukan kepada
pemerintah Indonesia, termasuk Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden, para
Menteri, anggota DPR / DPRD, para gubenur, para walikota, pejabat yang lain,
dan juga kepada para pemimpin dan pengurus partai politik di seluruh tanah
air, agar aspirasi kami dapat didengarkan dan ditindaklanjuti demi
kepentingan bersama.


*Petisi** Peningkatan Kualitas Pendidikan Nasional***

Kami rakyat Indonesia menginginkan :
1. Peningkatan kualitas para guru. Kami menginginkan
pemerintah untuk memberikan pelatihan metode pengajaran yang terbaru dan
terbaik bagi para guru agar pembelajaran tidak lagi lebih berorientasi pada
guru daripada siswa.

2. Perubahan dan perbaikan kurikulum nasional. Kami menginginkan
pemerintah untuk lebih memperhatikan kurikulum nasional agar siswa
dapat lebih fokus pada sejumlah mata pelajaran terpilih. Kami juga
menginginkan pemerintah untuk meninjau kembali dan mengurangi jumlah mata
pelajaran yang dipelajari di sekolah.

3. Perbaikan kualitas gedung sekolah dan fasilitas bagi siswa. Kami
menginginkan pemerintah untuk lebih memperhatikan sarana dan prasarana
sekolah demi pendidikan yang lebih berkualitas.

4. Peningkatan gaji dan kesejahteraan guru. Kami menginginkan
pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan guru agar para guru dapat
menjalankan tugasnya dengan lebih baik.

5. Peniadaan biaya sekolah. Kami menginginkan pemerintah menyediakan
sekolah yang gratis, tanpa memungut biaya dari para orang tua untuk sekolah
negeri dari tingkat TK sampai SMA. Di negara ini banyak anak putus sekolah
karena faktor kekurangan biaya. Kami harapkan pemerintah bisa menanggung
seluruh biaya tersebut.

Demikian petisi ini kami buat dengan harapan para pemimpin rakyat dan negara
akan memperhatikan dan menindaklanjutinya.

Dengan hormat,

RAKYAT INDONESIA

Klik di sini untuk memberikan tanda tangan online di situs Care2 Petition
Site http://www.thepetitionsite.com/petition/271704557

Keterangan:
Bila jumlah tanda tangan yang terkumpul secara online sudah cukup besar,
petisi ini akan diteruskan di atas kertas oleh sukarelawan yang akan mencari
orang yang tidak punya internet/komputer tapi ingin bergabung dengan petisi
ini.

Jika proses itu sudah dianggap selesai, seluruh isi dari petisi online dan
petisi di atas kertas akan diserahkan kepada pemerintah. Semoga usaha ini mendapatkan kemudahan dan bantuan dari Tuhan Yang Maha Esa
demi kepentingan masa depan anak bangsa. Amin.

Dimohon agar tidak ada orang yang mengisi petisi dengan identitas palsu. Komentar tambahan dan diskusi bisa dilakukan di sini:
http://petisikita.blogspot.com/

Read More....

Pentingnya Pendidikan Multikultural

Penerapan pendidikan multikultural sangat penting untuk meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.

"Dengan pengembangan model pendidikan berbasis multikultural diharapkan mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik. Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras, dan antargolongan," kata pengamat pendidikan prof Dr HAR Tilaar, kepada Pembaruan, di sela-sela seminar pendidikan multikultural, yang digelar di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Kamis (16/11).


Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Yon Sugiono, dan Kepala Proyek Pengembangan Model Pendidikan Multikultural Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Murniati Agustina Tilaar tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut selain HAR Tilaar, menjelaskan, banyak kesalahan program pendidikan yang diterapkan dalam sekolah. "Dengan perintisan model pengajaran multikultural yang dikembangkan oleh Pusat kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, diharapkan siswa akan lebih mengetahui pluralitas dan menghargai keberagaman tersebut," terang Tilaar.

Dijelaskan, sekolah yang baik adalah sekolah yang belajar. Sekolah bukan saja tempat bagi siswa untuk belajar melainkan sekolah justru ikut berkembang, karena sekolah juga belajar. Sekolah adalah bagian dari masyarakat. Karena itu, sekolah perlu mengembangkan diri dan belajar tiada berkesudahan.

Hapus Diskriminasi
Sikap menghargai keberagaman, juga harus ditanamkan di sekolah. Sebenarnya, sekolah adalah tempat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan membuat siswa terkotak-kotak. Sekolah harus bebas diskriminasi," katanya.

Yon Sugiono menjelaskan, untuk menghindari konflik seperti kasus yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sudah saatnya dicarikan solusi preventif yang tepat dan efektif. Salah satunya adalah melalui pendidikan multikultural.

Model pendidikan ini, jelasnya, pengenalan dan sosialisasi program pengembangan model pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan menggunakan film semi dokumenter. "Mengapa? Karena pembelajaran ini menawarkan metodologi dan pendekatan yang berbeda dari model-model pembelajaran konvensional yang selama ini dicekoki ke siswa," katanya.

Sugiono menerangkan, metodologi dan strategi pembelajaran multikultural dengan menggunakan sarana audio visual telah cukup menarik minat belajar anak serta sangat menyenangkan bagi siswa dan guru. Karena, siswa secara sekaligus dapat mendengar, melihat, dan melakukan praktik selama proses pembelajaran berlangsung.

"Dari serangkaian implementasi program pengembangan model pendidikan multikultural di Madrasah Pembangunan UIN bisa diketahui beberapa pencapaian indikator pembelajaran. Di antaranya, adanya pemahaman dan afeksi siswa tentang nilai-nilai multikultural yang dikembangkan. Misalnya, toleransi, solidaritas, musyawarah, dan pengungkapan diri," katanya.

Sugiono menambahkan, program pendidikan multikultural dalam penerapannya saat ini bukanlah mata pelajaran yang berdiri sendiri, namun terintegrasi ke dalam mata-mata pelajaran, sehingga dalam implementasinya perlu dilakukan oleh guru-guru yang kreatif dan inovatif. "Guru-guru dituntut kreatif dan inovatif sehingga mampu mengolah dan menciptakan desain pembelajaran yang sesuai. Termasuk memberikan dan membangkitkan motivasi belajar," katanya.

Sementara itu, Kepala Proyek Pengembangan Model Pendidikan Multikultural untuk Anak Usia Sekolah PKPM Unika Atma Jaya Jakarta Muniarti Agustina menjelaskan, melalui model pembelajaran berbasis multikultural, siswa diperkenalkan dan diajak megembangkan nilai-nilai dan sikap toleransi, solidaritas, empati, musyawarah, dan egaliter.

"Dengan begini, siswa juga memahami kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya bangsa ini. Dan ini bisa menghambat terjadinya konflik," katanya. Dalam menggagas model ini, Muniarti memaparkan, PKPM Unika Atma Jaya Jakarta melakukan penelitian di 8 sekolah, antara lain, SDN Sunter Agung 03 Pagi, SDN Lebak Bulus 06, SD Andreas, Madrasah Pembangunan UIN Tangerang, dan SD Amanda (SD berbasis agama Budha).

Dikatakan, model pembelajaran multikultural ini bisa berhasil, jika kepala sekolah mendukung program ini. Selain itu, para pengajar juga mau menerima pembaruan dan sekolah sudah terbiasa mengembangkan kurikulum sendiri di samping kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional. "Sementara, alat lain yang mendukung adalah adanya audio visual. Karena ini menjadi penting untuk menyaksikan film-film bertema multikultural," katanya.

Sumber : http://www.suarapembaruan.com/

Read More....

Pendidikan Seks Perlu Masuk Kurikulum

Pemerintah didesak untuk segera memasukkan pendidikan seks dalam kurikulum sekolah. Tanpa pendidikan seks, remaja Indonesia akan semakin terjerat pada persoalan sosial dan kesehatan yang serius.

Demikian benang merah perbincangan Media dengan psikolog Tika Bisono, Kepala SMP 109 Jakarta Murhanuddin, serta artis sinetron remaja Shandy Aulia di sela-sela acara 'Program Edukasi Rexona School of Confidence' di Jakarta, kemarin.



Dalam beberapa kasus mereka memberikan contoh, misalnya kehamilan remaja yang semakin meningkat, pelecehan seksual di sekolah, serta semakin longgarnya nilai-nilai moral di kalangan generasi muda.

Tika mengungkapkan, hingga saat ini pemerintah maupun kalangan legislatif belum memperlihatkan perhatian serius terhadap pentingnya pendidikan seks untuk remaja. Padahal, ini merupakan benteng yang paling diperlukan untuk melindungi remaja dari derasnya terpaan budaya asing yang merusak moral. Ia menyarankan pendidikan seks diberikan mulai SMP, ketika remaja memasuki akil balig.

"Kita lihat sekarang, mereka dapat dengan mudah mendapat majalah, situs internet, serta VCD porno. Akses mereka terhadap tayangan yang merusak moral kian terbuka, lalu kita diam saja. Akibatnya, dengan mudah dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Sampai kapan kita terus tinggal diam," kata Tika yang mengaku dirinya telah menyuarakan isu pendidikan seks ini hampir satu dekade yang lalu. Namun, upayanya tersebut belum menemui hasil.

Psikolog yang mendalami masalah remaja ini mengakui, beberapa sekolah, terutama swasta, telah memberikan pendidikan seks pada siswa-siswanya. Namun, hal itu belum diwujudkan secara terstruktur sehingga tujuan pengajaran pun dikhawatirkan tidak tercapai. Tika menyatakan, pendidikan seks idealnya menerangkan tentang fungsi organ seksual disertai dengan penjelasan tentang aspek kesehatannya, penyakit menular seksual, serta nilai-nilai moral dan agama yang terkait fungsi dan peran gender.

Hal senada juga diungkapkan Shandy yang kini duduk di kelas satu SMA ini. Gadis berusia 17 tahun ini mengaku cukup beruntung karena di sekolahnya mendapat pendidikan seks setiap satu minggu sekali. Namun, materi yang diajarkan cenderung membosankan sehingga tidak menarik minat. "Setiap satu minggu kami mendapat pelajaran tentang seks, narkoba dan sebagainya. Tapi, cara mengajar gurunya sangat tidak menyenangkan, beberapa kali saya malah kabur. Tapi, sebenarnya pelajaran itu berguna lo, karena terus terang untuk bertanya pada guru, saya sungkan," kata Shandy.

Tika menegaskan, keluarga di Indonesia belum terbiasa berdialog tentang seks. Seks masih dianggap tabu dan vulgar. Kondisi itulah, kata Tika, yang membuat pendidikan seks perlu diformalkan. Ia menyarankan, pendidikan seks diberikan dalam jam pelajaran tersendiri. Namun, untuk menunjang efektivitasnya, edukasi seks juga disisipkan dalam seluruh mata pelajaran secara tidak langsung.

Pendapat Tika juga dibenarkan Murhanuddin. Pendidik yang kini memimpin SMP peringkat pertama di Jakarta itu menekankan materi pendidikan seks harus dipersiapkan seoptimal mungkin.

Berdasarkan data yang dihimpun Media dari Perkumpulan Remaja Indonesia (PKBI) pada 1999, sebanyak 10% remaja setuju dengan seks pranikah dan 71% remaja yang berpacaran melakukan hubungan seks dengan pacarnya. ''Angka itu pasti meningkat karena secara logika terpaan budaya asing yang permisif semakin kencang,'' ujar Tika.

Gerakan Nasional
Bak gayung bersambut, harapan Tika, Murhanuddin maupun Shandy untuk menangkal pornografi menuai secercah harapan. Kemarin, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta mendeklarasikan 'Gerakan Nasional Bersih Pornografi dan Pornoaksi'.

Gerakan yang dideklarasikan di Jakarta ini, akan diikuti pembentukan pusat-pusat aksi di berbagai daerah untuk menjamin efektivitas kegiatan. "Gerakan ini lahir dari rasa kerisauan kami atas pornografi dan pornoaksi serta dampaknya di masyarakat yang semakin marak belakangan ini," kata Adhyaksa.

Dikatakan, pihaknya telah melaporkan masalah pornografi dan pornoaksi dan pembentukan gerakan tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. "Dan Presiden bilang ini memang sudah tidak bisa ditolerir lagi, harus ada tindakan segera," tambah Menpora. Adhiyaksa mengaku peduli atas masalah itu karena sebagian besar mereka yang terkena dampak adalah dari kalangan kaum muda.

Dalam kesempatan yang sama, Meutia Hatta mengatakan salah satu target yang ingin dicapai dari gerakan ini adalah berubahnya pola pikir masyarakat terhadap perempuan, karena obyek pornografi pada umumnya adalah kaum Hawa. "Pola pikir masyarakat kita sekarang umumnya masih memandang perempuan dari segi fisik. Parahnya, banyak juga perempuan yang senang diperlakukan seperti itu," katanya. (IZ/Awi/H-4)

http://www.mediaindo.co.id/

Read More....

Sistem Pendidikan Nasional Perlu Dikaji Ulang

Sistem pendidikan nasional perlu dikaji ulang dikarenakan implementasinya selama ini kurang mengakomodasi kepentingan dan hak anak didik untuk memperoleh pendidikan secara layak dan memadai. "Selama ini ruang apresiasi ilmu yang diperoleh di bangku pendidikan lebih ditekankan pada pembangunan intelektual anak berbasis ilmu murni, bukan pembentukan kepribadian secara utuh, merdeka lahir batin dan budi pekerti tinggi," kata Wakil ketua DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gandung Pardiman di Yogyakarta.


Menurutnya salah satu dari tujuan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang antara lain ditempuh melalui pendidikan yang bermuatan nilai moral atau etika. "Keberhasilan mencapai tujuan nasional itu akan banyak dipengaruhi oleh peran 'tripusat pendidikan' yakni lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat," katanya.

Untuk itu pemerintah dan berbagai lembaga pendidikan diharapkan mengkaji kembali sistem pendidikan nasional agar ke depan mampu menciptakan anak didik yang utuh dalam segala aspek seperti kecerdasan dan budi pekerti yang tinggi. "Jika selama ini kepentingan dan hak anak didik banyak terabaikan, maka ke depan harus lebih diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar mereka memperoleh pendidikan secara layak," kata Gandung.

Read More....

Kamis, 22 Mei 2008

Sistem Informasi Manajemen

Sistem informasi keseluruhan tidak hanya terdapat dalam Sistem informasi manajemen, karena tidak semua informasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis. Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem komputer.
Di dalam usaha Pengembangan Sistem informasi manajemen yang canggih dengan berbasis komputer memerlukan orang-orang yang mempunyai ketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. Karena banyak organisasi yang gagal membangun Sistem informasi manajemen disebabkan karena :
Pertama, Kurangnya organisasi yang wajar
Kedua, Kurangnya perencanaan yang memadai
Ketiga, Kurangnya personil yang handal
Keempat, Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.


Sistem informasi manajemen yang baik adalah Sistem informasi manajemen yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.
Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang.

Di dalam sebuah Sistem informasi manajemen komputer bukan prasyarat mutlak secara teoritis, namun dalam praktek Sistem informasi manajemenyang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer. Prinsip utama perancangan Sistem informasi manajemen: Sistem informasi manajemenharus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama.

Sistem informasi manajemen bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. Sistem informasi manajemenmenyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika.

A.PENGERTIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sistem informasi Manajemen yaitu serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

Sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

Sistem informasi manajemen di dalam perancangan, penerapan dan pengoperasiannya sangat mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang semakin rumit. Salah satu alasan dari kerumitan ini adalah semakin meningkatnya dengan muncunya peraturan dari pemerintah.

Situasi lingkungan bisnis bukan hanya rumit tetapi juga dinamis. Oleh sebab itu manajer harus membuat keputusan dengan cepat terutama dengan munculnya masalah manajemen dengan munculnya pemecahan yang memadai.

Kegiatan utama dari Semua sistem informasi, yaitu menerima data sebagai masukan (input), kemudian memprosesnya dengan melakukan penghitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran dan lain-lain, akhirnya memperoleh informasi sebagai keluarannya (output).
DATA : fakta-fakta atau sesuatu yang dianggap (belum mempunyai arti)
INFORMASI : data yang telah diproses atau data yang memiliki arti.
Perubahan data menjadi informasi dilakukan oleh pengolah informasi. Pengolah informasi dapat meliputi elemen-elemen komputer, non-komputer atau kombinasi keduanya.

E-life merupakan Perkembangan Teknologi kehidupan, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti E-Commerce, E-Government, E-Education, E-Library, E-Journal, E-Medicine, E-Laboratory, E-Biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

Untuk meningkatkan pelayanan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan menjadi faktor penting sekaligus penghematan bagi Pendidikan dan kini telah menjadi salah satu standar mutu sebuah Pendidikan. Otomatisasi/komputerisasi sistem pelayanan dan sistem informasi manajemen merupakan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah ini. Banyak lembaga Pendidikan dan Pendidikan telah mendapat manfaat dari peralatan canggih ini.

Perkembangan Pendidikan di Indonesia yang maju sekarang ini, baik dari aspek administratif atau teknologi, maka proses pelayanan Pendidikan di Indonesia dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk mengembangkan mutu Pendidikan dibutuhkan beberapa fasilitas pendukung, dimana salah satu fasilitas pendukung tersebut adalah aplikasi teknologi informasi dalam bidang sistem informasi manajemen Pendidikan.

Read More....

Pentingnya Teknologi Informasi dalam Pendidikan

Teknologi informasi serta Komunikasi dewasa ini berkembang cepat menurut deret ukur. Dari tahun ke bulan, dari bulan ke minggu, dari minggu ke hari, dari hari ke jam, dan dari jam ke detik! Oleh karena itulah para cerdik-cendekia sepakat pada suatu argumen, bahwa: informasi memudahkan kehidupan manusia tanpa harus kehilangan kehumanisannya.

Manusia tidak bisa lepas dari pendidikan yang sebenarnya juga merupakan kegiatan informasi, bahkan dengan pendidikanlah informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat disebarluaskan kepada generasi penerus suatu bangsa.


Pengaruh dari Teknologi informasi dan komunikasi terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan Teknologi informasi dan komunikasi ada lima pergeseran di dalam proses pembelajaran yaitu:
(1) Pergeseran dari pelatihan ke penampilan,
(2) Pergeseran dari ruang kelas ke di mana dankapan saja,
(3) Pergeseran dari kertas ke “on line” atau saluran,
(4) Pergeseran fasilitasfisik ke fasilitas jaringan kerja,
(5) Pergeseran dari waktu siklus ke waktu nyata.

Sebagai media pendidikan komunikasi dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut.

Dengan adanya teknologi informasi sekarang ini guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet.
E-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
(1) E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
(2) Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
(3) Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
(Rosenberg 2001; 28)

Pada saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Perkembangan Pendidkan di Era Globalisasi.
Kerjasama yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah antar pakar dan juga dengan mahasiswa. Padahal dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring dan mailing list. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sulawesi dapat berdiskusi masalah teknologi komputer dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.

Di dalam bidang penelitian juga diperlukan Sharing information agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.

Sebuah aplikasi baru bagi Internet yaitu Virtual university. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 - 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan Virtual University ini adalah www.ibuteledukasi.com . Mungkin sekarang ini Virtual University layanannya belum efektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan Virtual University ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal Video Streaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli IT di dunia Pendidikan. Virtual School juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satu dasawarsa ke depan.

Manfaat-manfaat yang disebutkan di atas sudah dapat menjadi alasan yang kuat untuk menjadikan Internet sebagai infrastruktur bidang pendidikan di Indonesia. Untuk merangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia adalah akses-akses :
1. Perpustakaan;
2. Pakar;
3. Kegiatan kuliah dilakukan secara online;
4. Tersedianya layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan;
5. Tersedianya fasilitas mesin pencari data;
6. Tersedianya fasilitas diskusi;
7. Tersedianya fasilitas direktori alumni dan sekolah;
8. Tersedianya fasilitas kerjasama;

Read More....

Jumat, 16 Mei 2008

Penggunaan Bahasa Indonesia dan Peningkatan Mutunya

Pemerintah Indonesia bersama-sama dengan pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam telah sepakat untuk mengutamakan penggunaan bahasa kebangsaan sesuai dengan kedudukan dan fungsinya. Pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Melayu secara tertib dan sikap positif penuturnya akan menjadi titik pijak yang baik untuk mengembangkan pemakaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu di mancanegara. Oleh karena itu, peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia/bahasa Melayu perlu digalakkan di berbagai lapisan masyarakat.


Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada pembukaan Sidang dan Seminar Bahasa dan Sastra MABBIM-MASTERA di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (7/04/2008). "Utamakan peradaban bangsa serumpun agar bahasa Indonesia dan bahasa Melayu tidak tercerabut dari akarnya," kata Mendiknas.

Mendiknas menyampaikan, sebagaimana dinyatakan dalam Declaration on the Rights of Persons belonging to National, Ethnic, Religius, and Linguistics Minorities (1992) tentang hak-hak sipil mengisyaratkan bahwa negara mempunyai kewajiban untuk memperhatikan bahasa minoritas sebagai ciri etnis atau budaya penutur bahasa itu. " Dalam hal bahasa, di Indonesia bahasa minoritas adalah bahasa daerah walaupun ada bahasa daerah yang mempunyai penutur banyak."

Menurut Mendiknas, penggalian kekayaan bahasa daerah diperlukan untuk mengimbangi pengaruh besar bahasa asing dalam pengembangan kosakata atau istilah Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu. "Mabbim telah berhasil mengembangkan mutu daya ungkap melalui penciptaan istilah baru dalam Bahasa Indonesia/Bahasa Melayu, sehingga konsep-konsep bidang ilmu dan teknologi serta seni dapat diwadahi," ujarnya.

Selanjutnya, kata Mendiknas, Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesi a- Malaysia) perlu merancang secara baik bagaimana menghadirkan istilah-istilah itu dalam pemakaian bahasa masyarakat, terutama di kalangan pendidikan tinggi dan calon cendekiawan. "Saya mengajak pimpinan perguruan tinggi untuk memasyarakatkan istilah Mabbim," kata Mendiknas.

Lebih lanjut Mendiknas mengungkapkan, saat ini terjadi interaksi yang sangat intensif antar peradaban, baik antar etnis, negara, dan mancanegara. Mendiknas menduga, hal ini berpotensi timbulnya osmose budaya. "Budaya yang lebih kental sangat berpotensi untuk mewarnai budaya yang lebih encer. Itu bisa terjadi antara budaya asing terhadap peradaban Indonesia dan juga interaksi antara budaya Indonesia dengan budaya daerah."

Demikian juga dengan kosakata bahasa asing yang memiliki kekentalaan budaya yang lebih tinggi daripada budaya Indonesia akan menginfiltrasi kosakata Bahasa Indonesia. Dalam kaitan ini, kata Mendiknas, perlu disiplin pengembangan kosakata yang berasal dari infiltrasi budaya. "Agar identitas dari budaya Indonesia, budaya kebangsaaan, dan identitas budaya daerah itu bisa tetap kita jaga dan sekaligus tetap menjadi identitas-identitas budaya yang relevan dan eksis di dalam masyarakat," ujarnya.***

Mendiknas menambahkan, sumber utama dari dibutuhkannya kosakata-kosakata baru dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Melayu adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Menurut dia, ada tiga bidang teknologi yang akhir-akhir ini begitu marak perkembangannya dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik yaitu teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi, dan nanoteknologi.

Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, tiga cabang teknologi ini telah berhasil menemukan realitas-realitas baru dalam kehidupan yang sebelumnya tidak ada kosakata yang mengungkapkan realitas itu. "Budaya yang dinamis yang hidup itu selalu berpotensi untuk menemukan realitas baru. Untuk itu diperlukan kosakata baru dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Melayu," ujarnya.***

Sumber: Pers Depdiknas

Read More....

Alternatif Buku Mahal dengan Ebook


Sampai dengan akhir tahun 2007 Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah membeli hak cipta sebanyak 37 buku pelajaran dari para penulis. Buku-buku tersebut lalu diubah ke dalam buku berformat digital (Ebook). Setelah itu, akan diletakkan ke portal Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) untuk dapat diunduh secara gratis oleh semua pihak terutama kalangan sekolah.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan, dengan adanya Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara signifikan telah meringankan beban orang tua, tetapi di mana-mana masih ada keluhan tentang mahalnya harga buku. "Program ini (ebook) telah didukung oleh Presiden dan saya yakin menjadi solusi dari mahalnya buku akhir-akhir ini," katanya pada acara Rapat Koordinasi TIK Nasional Tahun 2008 di Pusdiklat Pegawai Depdiknas, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Kamis (27/03/2008) .

Hadir dalam acara Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh, Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika, Kapustekkom Depdiknas Lilik Gani, Pejabat eselon II Depdiknas, Para kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia, Kepala Balai Tekkom, dan Ketua Tim TIK Provinsi.

Mendiknas mengatakan, pada 2008 fungsi Jardiknas akan dioptimalkan menjadi wadah program buku murah atau ebook bagi peserta didik. Apabila ada pihak yang berminat untuk memperdagangkan buku-buku tersebut dapat mengunduh secara gratis, mencetak, dan kemudian menjualnya. "Tetapi harganya tidak boleh melampaui harga yang ditetapkan," katanya.

Mendiknas memperkirakan, harga cetak buku tidak akan melampaui Rp.8.000,00 per buku. Sekarang ini, kata dia, harga buku-buku untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs rata-rata Rp.25.000,00. "Jadi harga buku itu menjadi sepertiganya saja. Harganya menjadi murah sekali nanti."

Mendiknas mengatakan, sebagaimana disampaikan oleh Presiden pada rapat evaluasi program di Gedung Bidakara, Jakarta pada 6 Februari 2008, program ini akan menghilangkan monopoli penerbitan buku pelajaran dan diharapkan bisa menurunkan harga buku.

Aplikasi ebook yang akan diletakkan di Jardiknas saat ini sedang dalam proses pengembangan dan diharapkan selesai pada Juni 2008. Direncanakan, akan diresmikan oleh Presiden pada 1 Agustus 2008. "Sebanyak tiga puluh tujuh jilid akan diupload minggu depan dan ditambah dua belas jilid akhir bulan ini. Kemudian akan dilaunching oleh Presiden sebanyak minimal 200 judul buku," ujar Mendiknas.

Adapun sebanyak 37 buku tersebut meliputi buku teks pelajaran jenjang SD/MI Ilmu Pengetahuan Alam (6 judul), Matematika (4 judul), dan Bahasa Indonesia (10 judul). Pada jenjang SMP/MTs Matematika (3 judul) dan Bahasa Indonesia (6 judul), sedangkan pada jenjang SMA/MA Matematika (1 judul), Bahasa Indonesia (3 judul). Sementara pada jenjang SMK/MAK Matematika (3 judul) dan Bahasa Indonesia (1 judul).***
Sumber: Pers Depdiknas

Read More....

Peningkatan Kualitas Perguruan Tinggi dengan Beasiswa

Pemerintah telah menyiapkan beasiwa bagi 170.000 mahasiswa untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi yang bermutu. Beberapa perguruan tinggi mengembangkan terobosan beasiswa bagi mahasiswanya.


Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdikns Fasli Jalal menyebutkan, pada awal pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi (dikti) sebesar 14 persen atau sebanyak 25 juta penduduk dari usia 19-24 tahun. "Saat ini APK dikti sebesar 17 persen, sedangkan target sampai dengan akhir kabinet ini sebesar 18 persen. Untuk mencapai target ini, perlu menambah jumlah mahasiswa sebanyak 180 ribu orang," katanya dalam konferensi pers di Media Center Rembuk Nasional Pendidikan 2008 di Pusdiklat Pegawai Depdiknas di Sawangan, Bogor (5/2/2008)..

Fasli menambahkan, saat ini hanya dua daerah yang ber-APK di atas rata-rata nasional, yakni Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi DI Yogyakarta. "Yang lainnya di bawah rata-rata nasional. Ada yang sangat rendah sampai 6 persen," ujarnya.

Untuk meningkatkan APK dan akses yang lebih luas, pemerintah telah memberikan sebanyak 170.000 beasiswa untuk mahasiswa sebesar Rp 250.000 per bulan per orang untuk jenjang S1. "Beasiswa dibagikan ke semua PTN dan PTS secara proporsional sesuai dengan jumlah mahasiswa," katanya. Namun, Fasli minta ada biaya relokasi dan penyesuaian terhadap lingkungan.

Di sisi lain, Fasli juga mempersilakan orang tua mahasiswa yang mau membayar lebih untuk mendapatkan mutu pendidikan yang baik bagi anaknya. "Bagi yang mampu membayar, mari kita tambahkan kemungkinan menyumbang demi mutu yang lebih baik."

Fasli meminta perguruan tinggi menjaga proses pembelajaran yang bermutu dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang memiliki potensi. "Kita akan jemput bola bagi pelajar yang mempunyai peringkat tertinggi di sekolahnya. Mereka yang potensial, tapi miskin akan difasiltasi. Tidak ada alasan untuk tidak bersekolah bagi mereka," ujar Fasli.

Herry Suharyanto, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan solusi bagi mahasiswa potensial, tapi tidak mampu melalui SPP Pola Subsidi Silang. Herry menyebutkan 60 persen orang tua mahasiswa IPB berpenghasilan di bawah Rp.2,5 juta rupiah, termasuk 18 persennya di bawah Rp.1 juta, dan sekitar 7,5 persen yang penghasilan di atar Rp.15 juta. "IPB berupaya memberikan perlakuan yang adil dengan memberikan subsidi kepada mahasiswa bermutu yang tidak mampu. Jadi, konteksnya membuat suatu mekanisme pengenaan biaya pendidikan yang berkeadilan, " ujar Herry.

Biaya pokok penyelenggaraan pendidikan di IPB sebesar Rp.12 juta per mahasiswa per tahun. Sebagian dari biaya ini merupakan subsidi dari pemerintah, sebagian lagi dari usaha komersial IPB, dan sekitar Rp.2 juta ditanggung mahasiswa. Selain dengan pola subsidi silang, IPB juga memberikan beasiswa bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk membiayai mahasiswa dari daerahnya.

Menurut Herry, dengan pola subsidi silang, IPB mendapatkan banyak manfaat. Mahasiswa yang kesulitan dengan biaya kuliah jauh berkurang karena dibantu dengan beasiswa. "Pendapatan IPB meningkat, sehingga kualitas pendidikan juga meningkat," ujar Herry.

Sementara itu Sugeng Mardiyono, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengemukakan perguruan tingginya memberikan beasiswa duafa bagi mahasiswa yatim piatu (tidak memiliki orang tua). "Kami bekerjasama dengan yayasan dan jumlahnya masih terbatas," ujar Sugeng. Saat ini UNY telah memberikan beasiswa bagi sekitar 3.600 mahasiswa atau 15 persen dari total mahasiswa UNY yang mencapai 26.010.***

Sumber: Pers Depdiknas

Read More....

Sistem Pendidikan Nasional


Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

.: Jalur Pendidikan
Jalur pendidikan terdiri atas:
1. pendidikan formal,
2. nonformal, dan
3. informal.

Jalur Pendidikan Formal
Jenjang pendidikan formal terdiri atas:
1. pendidikan dasar,
2. pendidikan menengah,
3. dan pendidikan tinggi.

Jenis pendidikan mencakup:
1. pendidikan umum,
2. kejuruan,
3. akademik,
4. profesi,
5. vokasi,
6. keagamaan, dan
7. khusus.

Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Pendidikan dasar berbentuk:
1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; serta
2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan menengah terdiri atas:
1. pendidikan menengah umum, dan
2. pendidikan menengah kejuruan.
Pendidikan menengah berbentuk:
1. Sekolah Menengah Atas (SMA),
2. Madrasah Aliyah (MA),
3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan
4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dapat berbentuk:
1. akademi,
2. politeknik,
3. sekolah tinggi,
4. institut, atau
5. universitas.

Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Pendidikan nonformal meliputi:
1. pendidikan kecakapan hidup,
2. pendidikan anak usia dini,
3. pendidikan kepemudaan,
4. pendidikan pemberdayaan perempuan,
5. pendidikan keaksaraan,
6. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,
7. pendidikan kesetaraan, serta
8. pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:
1. lembaga kursus,
2. lembaga pelatihan,
3. kelompok belajar,
4. pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
5. majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan Informal
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

.: Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:
1. Taman Kanak-kanak (TK),
2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:
1. Kelompok Bermain (KB),
2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

.: Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

.: Pendidikan Keagamaan
Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan keagamaan berbentuk:
1. pendidikan diniyah,
2. pesantren,
3. pasraman,
4. pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.


.: Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.
Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

.: Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus
Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
**Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DAFTAR ISTILAH

Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Sistem pendidikan nasional adalah Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Peserta didik adalah Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Jalur pendidikan adalah Wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Jenjang pendidikan adalah Tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

Jenis pendidikan adalah Kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Satuan pendidikan adalah Kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Pendidikan formal adalah Jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal adalah Jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Pendidikan informal adalah Jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan anak usia dini adalah Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan jarak jauh adalah Pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Standar nasional pendidikan adalah Kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wajib belajar adalah Program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh Warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Warga Negara adalah Warga Negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat adalah Kelompok Warga Negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, atau Pemerintah Kota.

Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.

Read More....

Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan

Negara Indonesia telah berkomitmen untuk memasuki dan mengimplementasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pendidikan. Sejak tahun 90-an telah dilakukan berbagai macam ujii coba pendidikan berbasis TIK terutama pada jenjang pendidikan tinggi (dikti) dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Targetnya adalah menjangkau seluruh jenjang dan jalur pendidikan.


"Tahun ini kita sudah memberikan akses ke lebih dari sepuluh ribu sekolah terutama SMA dan SMK, bahkan SD dan SMP pun sudah mulai online. Semua perguruan tinggi negeri sekarang sudah online dengan Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) dan lebih 100 perguruan tinggi swasta sudah online," kata Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo usai membuka Simposium Internasional Open, Distance, and E-Learning 2007 di Discovery Kartika Plaza, Kuta, Denpasar, Bali, Rabu (14/11).

Bambang menyampaikan, kebijakan pemanfaatan TIK untuk pendidikan ini adalah terobosan yang dilakukan secara masal. Saat ini, kata Bambang, sebanyak 70 persen SMK sudah memiliki laboratorium komputer, sedangkan SMA sebanyak 30 persen dan SMP 20 persen. "Pada tahun 2008 pengadaan komputer di sekolah-sekolah akan dilakukan secara besar-besaran, " katanya.

Menurut Bambang, strategi pemanfaatan TIK dimulai dari jenjang pendidikan yang paling siap. Perguruan tinggi, kata dia, telah memulai terlebih dahulu, kemudian pemberian akses dimulai dari jenjang SMA, SMK, dan SMP. "Biasanya daerah perkotaan lebih siap untuk memulai, kemudian kita rembetkan ke daerah pedesaan."

Lebih lanjut Bambang mengatakan, program TIK tidak hanya dibatasi pada pendidikan formal, bahkan sekarang pun pada pendidikan nonformal sudah terdapat program TIK. Saat ini, kata dia, telah diselenggarakan program kursus komputer yang pada akhir program memberikan sertifikasi bertaraf internasional. "Sertifikasi itu namanya International Computer Driving License (ICDL). Ini mulai dikembangkan pada pendidikan nonformal," ujarnya.

Penerapan TIK, kata Bambang, sejak tahun 2005 juga mengembangkan pendidikan menggunakan sarana televisi terutama untuk jenjang SMP. "Semua SMP sekarang sudah menjadi bagian dari TV Education (TVE). Suatu saat nanti antara pendidikan berbasis televisi dan TIK dapat diintergrasikan, sehingga komunikasi lebih sempurna lagi," katanya.***
Sumber: Pers Depdiknas

Read More....

Berantas Buta Aksara dengan Bahasa Daerah

Sebagai bahasa yang pertama dipelajari di lingkungan keluarga, bahasa daerah memainkan peran penting dalam proses pendidikan anak bangsa. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran aksara untuk para penyandang buta aksara. Bahasa daerah bermanfaat sebagai sarana memberantas buta aksara.

"Ada kecenderungan penyandang buta aksara tidak menguasai bahasa Indonesia. Namun, pada jenjang pembelajaran keaksaraan selanjutnya perlu diarahkan penggunaan bahasa pengantar bahasa Indonesia," kata Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2008 di Gedung Depdiknas, Jakarta, Senin (25/02/2008) .

Hadir dalam acara Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (Ka KNIU) Arief Rahman, Duta Besar Bangladesh Salma Khan, Duta Besar Sri Lanka Nanda Mallawaarachchi, serta perwakilan dari India dan Pakistan.

Dendy mengatakan, wawasan dan pengetahuan tentang aksara yang telah dipelajari harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, lanjut dia, diperlukan pembinaan pascabelajar aksara. "Pembinaan dapat dilakukan melalui pengekalan kelompok-kelompok belajar dengan kelanjutan aktivitas belajar melalui membaca dan menulis," katanya.

Sabbir Ahmed, Asisten Profesor Bidang Politik Universitas Dhaka Bangladesh, menyampaikan, pemberantasan buta aksara di negaranya dilakukan melalui jalur pendidikan nonformal. Adapun targetnya, kata dia, terutama bagi anak-anak pribumi yang putus sekolah dan miskin. "Mereka tidak menyelesaikan belajar, mereka putus sekolah karena tekanan ekonomi keluarga. Anggota keluarga menginginkan anaknya mencari uang," katanya.

Sabbir mengatakan, saat ini terdapat sebanyak 14.289 pelajar pribumi belajar di 928 sekolah nonformal. Adapun penduduk etnis minoritas di Bangladesh sebanyak 1,2 juta orang dari seluruh populasi penduduk sebanyak 150 juta orang. Kegiatan belajar yang dimulai sejak Oktober 2001 difasilitasi oleh lembaga swadaya masyarakat Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC).

Anju Ranjan, Sekretaris II Bidang Informasi Politik dan Pendidikan Kedutaan Besar India, menyampaikan, India merupakan negara besar yang memiliki sebanyak 18 bahasa daerah. Bahasa ibu, kata dia, diajarkan sejak jenjang sekolah dasar (primary level). Selanjutnya, pada jenjang sekolah menengah (secondary level) mulai dikenalkan bahasa Inggris dan salah satu bahasa daerah yang lain. "Siswa diminta memilih salah satu bahasa daerah India," katanya.

Lebih lanjut, Anju mengatakan, di India terdapat lebih dari seribu dialek. Pemerintah India mempromosikan pendidikan menggunakan dialek bahasa India, khususnya di daerah pedesaan. "Kebijakan nasional pendidikan menekankan pada jenjang primary level, memelihara bahasa ibu, dan memperlakukan semua bahasa lainnya sederajat," katanya.***
Sumber: Pers Depdiknas

Read More....

Rabu, 30 April 2008

Pendidikan


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

Jenjang pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

1. Pendidikan anak usia dini

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini mulai lahir sampai baligh (kalau perempuan ditandai menstruasi sedangkan laki-laki sudah mimpi sampai mengeluarkan air mani) adalah tanggung jawab sepenuhnya orang tua, apakah anak itu mau diarahkan Yahudi, Majusi, atau nashrani, atau Islam. pertanyaannya bagaimana kalau kedua orang tuanya sibuk bekerja?

2. Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

3. Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.

4. Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh [[perguruan tinggi Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA

5. Materi pendidikan

Materi Pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-nilai hidup. nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat. penyajiannya tidak boleh pendidikan sifatnya memaksa terhadap anak didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektif ilmiah. dalam pendidikan yang ada di Indonesia tidak disajikan nilai hidup, sehingga bangsa Indonesia menjadi kacau balau seperti sekarang ini.

Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

1. Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

2. Pendidikan nonformal

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan dasar, dan pendidikan lanjutan.

Pendidikan dasar mencakup pendidikan keaksaraan dasar, keaksaraan fungsional, dan keaksaraan lanjutan paling banyak ditemukan dalam pendidikan usia dini (PAUD), Taman Pendidikan Al Quran (TPA), maupun Pendidikan Lanjut Usia. Pemberantasan Buta Aksara (PBA) serta program paket A (setara SD), paket B (setara B) adalah merupakan pendidikan dasar.

Pendidikan lanjutan meliputi program paket C(setara SLA), kursus, pendidikan vokasi, latihan keterampilan lain baik dilaksanakan secara terogranisasi maupun tidak terorganisasi.

Pendidikan Non Formal mengenal pula Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai pangkalan program yang dapat berada di dalam satu kawasan setingkat atau lebih kecil dari kelurahan/desa. PKBM dalam istilah yang berlaku umum merupakan padanan dari Community Learning Center (CLC)yang menjadi bagian komponen dari Community Center.

3. Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Jenis pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

1. Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

2. Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

3. Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

4. Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

5. Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

6. Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

7. Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).

Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Banyak orang yang lain, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka -- walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Kualitas pendidikan

Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan -- khususnya di Indonesia -- yaitu:

• Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.

• Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.


Read More....