Custom Search

Jumat, 16 Mei 2008

Berantas Buta Aksara dengan Bahasa Daerah

Sebagai bahasa yang pertama dipelajari di lingkungan keluarga, bahasa daerah memainkan peran penting dalam proses pendidikan anak bangsa. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran aksara untuk para penyandang buta aksara. Bahasa daerah bermanfaat sebagai sarana memberantas buta aksara.

"Ada kecenderungan penyandang buta aksara tidak menguasai bahasa Indonesia. Namun, pada jenjang pembelajaran keaksaraan selanjutnya perlu diarahkan penggunaan bahasa pengantar bahasa Indonesia," kata Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2008 di Gedung Depdiknas, Jakarta, Senin (25/02/2008) .

Hadir dalam acara Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (Ka KNIU) Arief Rahman, Duta Besar Bangladesh Salma Khan, Duta Besar Sri Lanka Nanda Mallawaarachchi, serta perwakilan dari India dan Pakistan.

Dendy mengatakan, wawasan dan pengetahuan tentang aksara yang telah dipelajari harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, lanjut dia, diperlukan pembinaan pascabelajar aksara. "Pembinaan dapat dilakukan melalui pengekalan kelompok-kelompok belajar dengan kelanjutan aktivitas belajar melalui membaca dan menulis," katanya.

Sabbir Ahmed, Asisten Profesor Bidang Politik Universitas Dhaka Bangladesh, menyampaikan, pemberantasan buta aksara di negaranya dilakukan melalui jalur pendidikan nonformal. Adapun targetnya, kata dia, terutama bagi anak-anak pribumi yang putus sekolah dan miskin. "Mereka tidak menyelesaikan belajar, mereka putus sekolah karena tekanan ekonomi keluarga. Anggota keluarga menginginkan anaknya mencari uang," katanya.

Sabbir mengatakan, saat ini terdapat sebanyak 14.289 pelajar pribumi belajar di 928 sekolah nonformal. Adapun penduduk etnis minoritas di Bangladesh sebanyak 1,2 juta orang dari seluruh populasi penduduk sebanyak 150 juta orang. Kegiatan belajar yang dimulai sejak Oktober 2001 difasilitasi oleh lembaga swadaya masyarakat Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC).

Anju Ranjan, Sekretaris II Bidang Informasi Politik dan Pendidikan Kedutaan Besar India, menyampaikan, India merupakan negara besar yang memiliki sebanyak 18 bahasa daerah. Bahasa ibu, kata dia, diajarkan sejak jenjang sekolah dasar (primary level). Selanjutnya, pada jenjang sekolah menengah (secondary level) mulai dikenalkan bahasa Inggris dan salah satu bahasa daerah yang lain. "Siswa diminta memilih salah satu bahasa daerah India," katanya.

Lebih lanjut, Anju mengatakan, di India terdapat lebih dari seribu dialek. Pemerintah India mempromosikan pendidikan menggunakan dialek bahasa India, khususnya di daerah pedesaan. "Kebijakan nasional pendidikan menekankan pada jenjang primary level, memelihara bahasa ibu, dan memperlakukan semua bahasa lainnya sederajat," katanya.***
Sumber: Pers Depdiknas

Artikel Sejenis :



Tidak ada komentar: