Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2011

Taksonomi Modern pada Tumbuhan

Pembagian taksonomi tumbuhan dimulai untuk mengetahui hubungan kekerabatan dalam genus dan family. Banyak pertanyaan muncul, yang mana tanaman yang maju dan yang terbelakang? Tanaman mana yang merupakan tanaman yang origin? Hal ini membuat para taksonom terus meneliti lebih jauh pada struktur dalam tanaman dan lebih memperdalam pada struktur kromosom, rangkaian DNA dan struktur genom. Ini disebut dengan taksonomi molekuler. Selanjutnya akan dipelajari pembagian taksonomi dan sistematik tumbuhan.


1. Morphology
Morfologi tanaman meliputi aspek: mikromorfologi untuk embriologi, palynology, bibit, semai, buah, cabang dan anatomi daun, sekresi kutikula. Melalui karakteristik morfologi dapat diketahui beberapa perlakuan tanaman.

2. Morfologi vegetative
Morfologi vegetatif harus melalui tahap demi tahap untuk identifikasi. Sehingga mengabaikan karakter vegetative adalah kesalahan yang besar dalam sejarah klasifikasi dan memperlambat pengerjaan dalam system alam. White mengungkapakan alasan jika karakter vegetative itu sangat penting sebagai contoh menurut Taia, daun Papilionideae terbagi dalam 7 kategori berdasarkan tipe trikoma, akhirnya Taia menemukan hanya ada 5 tipe daun morfologi menurut suku Trifolieae.

3. Morfologi dan anatomi bunga
Banyak perkembangan yang terjadi pada ilmu yang mempelajari tentang pembungaan. Dickison mempelajari anatomi bunga beberapa family tumbuhan. Endress mempelajari evolusi bunga angiosperma tropis dan keanekaragamannya. Erbar dan Leins menyatakan sebagian besar anatomi bunga adalah simpetal. Nectar, morfologi dan ontogeny androecium, pembuluh pada bunga juga dijadikan pembagian klasifikasi

4. Pembungaan

Pada bidang ini sangat berkembang pesat dengan adanya mikroskop resolusi tinggi dan mikroskop electron. Pada pembungaan pembagian klasifikasi lebih spesifik pada tipe polen dan mikroskopis polen. Dalam pengamatan pollen karakteristik yang digunakan seperti struktur dan ornamentasi dari polaritas dinding, simetri, ukuran bentuk, dan lubang dalam urutan filogenetik.

5. Embriologi
Embriologi dalam dua puluh tahun terakhir, investigasi banyak dari dicotyledons embriologi telah paling membantu dalam penempatan yang tepat dari berbagai taksa. penggunaan jumlah integumen, kulit biji dan jenis nucellus dalam filogeni dari dicotyledons telah diusulkan oleh banyak penulis. gambar pemupukan ganda oleh Friedman dan dia melanjutkan pencarian dengan williams rekannya, karena pertama kali berevolusi di satu nenek moyang ke gnetophytes dan angiosperma. produk pemupukan kedua adalah diploid dan menghasilkan embrio supernum erary. evolusi berikutnya mengarah pada pembentukan endosperma, embrio-bergizi nuklir dan delapan kantung nukleasi embrio.

6. Morfologi biji dan buah
Barthlott telah memberikan perhitungan benih dan kecil morfologi buah-buahan sebagai alat penting dalam taksonomi tanaman, terutama setelah penemuan mikroskop transmisi yang openened pandangan baru dalam penelitian ini. investigasi baru dalam penelitian ini adalah dari Chuang dan Ornduff pada benih Menyanthacea; Noorman Setten dan Kock-Noorman pada buah dan biji Annonaceae.

7. Karyomorphology
Seperti sekarang didefinisikan, karyomorphology melibatkan lebih dari sekedar jumlah kromosom di sebuah pabrik tertentu, tetapi juga melibatkan ukuran, morfologi dan anatomi internal. alat ini taksonomi dianggap sebagai salah satu cara yang paling penting dalam banyak batasan taksa. greilhubber menunjuk perlunya menggunakan karyomorphology dan bandeng kromosom pada taksonomi.

8. Anatomi
struktur internal tanaman telah menambahkan banyak dalam memahami hubungan antara taksa tersebut. organisasi sistem pembuluh darah di batang dan daun, tangkai daun dan anatomi nodal, pembuluh darah daun dan arsitektur dan studi epidemal dianggap karakter penting dalam philogeny dan taxonomi. Anatomi batang memegang peranan yang penting dalam mengidentifikasi suatu spesies. Karena ada beberapa klasifikasi tumbuhan didasarkan pada perbedaan struktut anatomi batang. Terutama pada anatomi batang terdapat sistem pembuluh yang dapat menjadi ciri khas pembeda antara satu taksa dengan taksa yang lain.

9. Studi kemotaksonomi dan serologi
Pada masing-masing tumbuhan dapat menunjukkan bahwa masing-masing famili mempunyai kandungan fitokimia yang berbeda-beda pada jaringannya. Sehingga perbedaan ini dapat juga digunakan sebagai salah satu dasar untuk mengklasifikasikan suatu tumbuhan (membantu dalam mengembangkan dasar-dasar pembeda taksonomi).

10. Paleobotani
Ini sangat berhubungan erat dengan fosil. Dari fosil-fosil tumbuhan yang ditemukan akan dapat diprediksi kapan suatu tanaman itu muncul dan kapan suatu tanaman itu punah. Dengan begitu akan dapat diketahui bahwa spesies ini berasal dari jaman apa dan dari nenek moyang tumbuhan yang mana. Hal tersebut akan sangat membantu dalam menyusun klasifikasi suatu tanaman (membantu dalam taksonomi).

11. Filogeni
filogeni dalam penerapannya mengacu pada data yang diperoleh dari ahli paleobotani untuk menemukan hubungan kekerabatan di antara tanaman. Studi akan filogeni tanaman telah dimulai oleh Darwin, tapi kami perlu menyebutkan point pentingnya, sekarang di lapangan. Di antara kebanyakan buku yang menginformasikan tentang filogeni dikotiledon antara lain adalah buku: Carnivorous plants: Phylogeny and evolution oleh Albert et al., Vascular Plant Families and Genera, oleh Brummi.

12. Molekul biologi
Perubahan terbesar dalam klasifikasi tanaman terjadi karena hasil sangat informatif yang dihasilkan oleh ahli taksonomi molekuler melalui analisis data sekuens DNA dari gen kloroplas rbcL. Selain itu, data yang diperoleh dari analisis kloroplas restiction dari mengulang terbalik dan urutan rRNA nuklir. Data ini bersama-sama dengan data morfologi dan lainnya dari alat-alat lain taksonomi telah membuat perubahan besar dalam dunia taksonomi.

13. Keanekaragaman dan adptation
oleh dua puluh tahun terakhir, banyak perhatian di seluruh dunia mengenai hilangnya keanekaragaman hayati. mereka kembali kehilangan ini terhadap perubahan ekosistem. Keragaman spesies yang ditemukan dalam sumber utama keanekaragaman hayati di tingkat yang lebih tinggi. Variasi genetik, struktur populasi penduduk yang dinamis dan genetik semua bersama-sama membentuk dan mempengaruhi cara berinteraksi dengan envionmentand spesies dengan spesies lainnya. Adaptasi berarti kemampuan organisme untuk mengatasi perubahan lingkungan. Untuk mengukur adaptasi, ada istilah yang digunakan disebut Kunci Adaptasi (KA) atau Kunci Inovasi (KI) mengacu pada usaha selama 50 tahun terakhir untuk berhubungan pola perubahan evolusioner dan diversication munculnya sifat-sifat tertentu.

14. Ecotaxonomy
Kemampuan tanaman untuk menghasilkan fenotip berbeda di bawah kondisi lingkungan yang berbeda yang kami sebut plastisitas fenotipik telah menjadi objek studi evolusi dan ekologi sejak lama. Pligliucci mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dialog baru antara ahli biologi organisme dan peneliti yang tertarik dalam mengungkap rincian mekanistik tanggapan fisiologis dan fenotipik telah menghasilkan beberapa wawasan baru.

15. Analisis Caldistic
Telah terjadi peningkatan penggunan komputer untuk penyimpanan data dan analisis selama dua puluh tahun terakhir. Data yang berasal dari semua alat penyelidikan taksonomi harus dianalisis secara matematis dan pohon cladistic harus darwn. Burger telah menulis kritik kuat dari cladistics Hennigian yang begitu mendominasi taksonomi modern. Meskipun kritik dari menggunakan analisis cladistic di taksonomi, metode cladistic telah menjadi alat teknis yang paling berguna untuk menjelaskan hubungan intrafamilial.

16. Hubungan Host-parasit
Thorne telah menunjuk ke neccesity menggunakan hubungan host-tanaman dan predator atau parasit dalam filogeni. Ackery mempelajari hostplants dari kupu-kupu nymphalid dan pemanfaatan hostplant oleh kupu-kupu Afrika dan Australia. Nickrent menyimpulkan parasitisme yang timbul secara independen di masing-masing sepuluh kali yaitu keluarga parasit setiap keluarga monophylatic. Dia menemukan urutan DNA dan data molekuler menjawab pertanyaan lama berdiri di filogeni tumbuhan parasit.
Taksonomi modern mempunyai dua pendekatan yaitu taksonomi klasikal dan eksperimental. Taksonomi klasikal menggunakan karakter morfologi sedangkan taksonomi eksperimental menggunakan metode lebih luas termasuk kimia, fisika dan matematika. Taksonomi klasik adalah suatu pengelompokan tumbuhan berdasarkan sifat-sifat makro yang menarik, selanjutnya dicari persamaan dan perbedaannya, lalu dikelompokkan dan diberi nama berdasarkan aturan internasional yang telah disepakati. Sedangkan taksonomi eksperimental, pengelompokannya tidak hanya berdasarkan hubungan sifat morfologi, tetapi juga karakter-karakter mikro atau karakter non morfologi, misalnya kandungan zat kimia, jumlah kromosom dan lain-lain.
- Mikroskop
Mikroskop digunakanmisalny untuk mengamati bentuk atau “ultra structure” butir-butir pollen. Pemanfaatan data sifat-sifat pollen dalam taksonomi tumbuhan dipelopori pada tahun 1926 oleh Wodehouse, khususnya morfologi pollen. Di sisi lain kemajuan instrumentasi mikroskop memungkinkan bentuk, jumlah dan tingkah laku kromosom selama pembelahan inti dapat diamati dengan lebih baik. Harborne (1975) berkesimpulan bahwa jumlah kromosom merupakan sifat empiris yang baik dengan nilai kepastian cukup tinggi.
- Kimia
Disiplin ilmu baru yang juga dikenal sebagai kemotaksonomi ini, menurut Harborne (1975) sangat penting, karena senyawa-senyawa kimia tumbuhan merupakan sifat emperik yang bernilai, serta seringkali dapat digunakan untuk menetapkan identitas suatu tumbuhan dengan tepat. Biasanya dengan teknik kromatografi dan elektroforesis. Kedua teknik ini dapat dioperasikan untuk menganalisis bermacam-macam sampel tumbuhan yang kuantitasnya sangat kecil dengan proses yang cukup cepat. Kandungan kimia tumbuhan yang sering dianalisis dalam kerja taksonomi tumbuhan tinggi adalah terpenoid, flavanoid dan alkaloid. Metode kromatografi diterapkan secara meluas karena keuntungannya yang cepat dan efisien dalam menganalisis senyawa-senyawa kimia. Metode elektoforesis ini tercatat sebagai metode paling andal dalam memecahkan permasalahan taksonomi (Harborne, 1975), terutama apabila sifat morfologi tidak dapat atau sulit sekali dibedakan.

Pengoperasian teknik ini semakin pesat dengan digunakannya medium pengembang sintetis poliakrilamida. Jenis gel ini memiliki kelebihan dibandingkan medium kertas, pati, dan agar karena lebih peka dalam mengekspresikan band-band atau bercak yang merupakan aktivitas enzim.
- Genetika
Dari pengamatan morfologi, Menadue dan Crowden (1990) mengajukan hipotesa bahwa variasi morfologi Ranunculus nanus terjadi karena pengaruh sifat genetika. Untuk menguji kebenaran hipotesa tersebut, data genetika (isoenzim) digunakan dengan memanfaatkan teknik elektroforesis pada gel poliakrilamida. Empat macam enzim (Esterase, Peroxidase, Malate Dehydrogenase dan Acid Phosphatase) diujicobakan pada lima populasi R. nanus, dan hasilnya menunjukkan adanya variasi genetika di antara populasi (Suranto, 1991).

- DNA
Para ahli taksonomi memanfaatkan data DNA sebagai “penanda molekuler” yang cukup signifikan. Dengan RLFP, sebagian kecil fragmen DNA dari genom tumbuhan dapat diamplifikasikan untuk mendapatkan sejumlah besar fragmen DNA, sehingga dengan teknik elektroforesis pada gel agarose pemunculan fragmen DNA tersebut dapat dideteksi secara konsisten dan menjadi data yang dapat digunakan untuk kerja pada taksonomi tumbuhan tinggi. Tapi kadangkala tidak diperoleh data yang valid karena “band” fragmen DNA yang diamplifikasi dengan mesin PCR (Polymeage Chain Reaction) tidak dapat muncul secara konsisten.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan taksonomi modern cenderung menggunakanserangkaian data yang saling berkaitan dengan suatu asumsi bahwa semakin banyak data yang digunakan, maka semakin kuat validitas hasil kerja ahli taksonomi tumbuhan tinggi dalam mengkarifikasi status takson suatu tumbuhan.

Resume Asteraceae
Taksonomi sel epidermis daun karakteristik bersama dengan keanekaragaman stomata dalam taksa 24 dari genus Artemisia dengan menggunakan lampu mikroskop dan pemindaian mikroskop elektron. Artemisia L. adalah salah satu genus polimorfik utama keluarga Asteraceae, terdiri lebih dari 500 spesies herba dan semak-semak.spesies Artemisia memiliki kepentingan ekonomi terapi, bahan makanan, pakan ternak, estetika dan binder tanah merusak habitat; taksa beberapa beracun atau alergis dan beberapa lain gulma berbahaya, yang buruk dapat mempengaruhi tanaman. Sebagian besar spesies Artemisia adalah abadi, padang rumput lingkungan dan curah hujan yang wajar. Dengan menggunakan karakter bunga sebagai taksonomi penanda untuk pembentukan klasifikasi alami, genus telah dibagi menjadi empat kelompok, yang telah diperlakukan sebagai bagian atau subgenera; Absinthium (Tournefort) de Cand., Artemisia Tournefort (= Besser Abrotanum), Dracunculus Besser, Besser Seriphidium. McArthur mengambil terpisah Seriphidium (Besser ex Hooker) sebagai genus otonom. Tapi Kornkven et al. (1998), Torrell et al. (1999) dan Watson et al. (2002) dalam studi molekuler mereka menggabungkan Seriphidium dengan Artemisia dan menolak pemisahan Seriphidium dari Artemisia. Karena hal ini akhirnya memunculkan perdebatan tentang filogeni subgeneric dan klasifikasi. Klasifikasi klasik hanya didasarkan pada bunga karakter variasi dan memiliki keberatan banyak, misalnya bagian Artemisia hanya berbeda dari Absinthium bagian oleh karakter tunggal yaitu, wadah telanjang (Artemisia) atau wadah tutup dengan rambut panjang (Absinthium). Sehingga perbandingan anatomi daun-daun Artemisia penting.

Foliar karakteristik anatomi epidermis di Artemisia menggunakan lampu mikroskopi (LM) dan pemindaian mikroskop elektron (SEM). Namun tujuan titik pin dari penelitian ini adalah untuk:
(a) mengidentifikasi dan membandingkan variasi yang berbeda tipe stomata pada spesies yang berbeda genus,
(b) amati kuantitatif dan kualitatif karakter epidermis daun sel dan
(c) menguraikan nilai taksonomi epidermis daun anatomi fitur antara taksa yang berbeda Artemisia berdasarkan pada kedua keragaman sel stomata dan epidermis
Terminologi dasar, digunakan untuk stomata dan sel epidermis identifikasi dan penjelasan, diadopsi dari Dilcher (1974). Jenisstomata yang ditemukan terdiri dari anomocytic, anisocytic, anomotetracytic, paratetracytic, diacytic dan paracytic stomata. 16 jenis trikoma foliar kelenjar dan non-kelenjar di Artemisia dan meluncurkan hubungan filogenetik di antara spesies yang berbeda dari genus dengan dasar ini Trikoma jenis. Nautiyal dan Purohit (1980) hanya dibahas frekuensi stomata dan anatomi perubahan dalam daun beberapa spesies Artemisia. Penulis Iran telah berusaha menjelaskan kegunaan taksonomi karakteristik anatomi daun Artemisia. Jenis stomata, variasi dalam ukuran stomata, sel penjaga, aperture dan stomata kompleks dan ada atau tidaknya anak perusahaan sel bersama dengan jumlah mereka menunjukkan bahwa daun tersebut fitur anatomi epidermis dapat disajikan sebagai taksonomi. alat untuk menghapus konflik ditingkat taksonomi yang berbeda dalam genus Artemisia. Berdasarkan variasi sel-sel epidermis dua kelompok Artemisia diakui, satu dengan bentuk tidak beraturan (Bergelombang margined) dan lainnya dengan bentuk memanjang (halus margined). Kesimpulannya anatomi, epidermis daun dengan khusus referensi untuk stomata memiliki signifikan taksonomi potensi.

Meskipun demikian, ada kebutuhan untuk mengembangkan lebih baik strategi untuk menganalisis dan mengintegrasikan data ini dengan molekul investigasi untuk gambar memahami tentang Artemisia filogeni dan klasifikasi.

Read More....

Pengertian Taksonomi

Taksonomi yaitu ilmu tentang kelompok organisme berdasarkan perbedaan kategori menurut karakter fisiknya. Pengelompokan atau karakterisasi akan dikelompokan didasarkan kesamaannya yang biasanya diwariskan kepada keturunannya dari nenek moyangnya.
Demikian mempelajari tentang taksonomi modern harus diawali dari sejarah klasifikasi dan bagaimana perkembangannya seiring perkembangan alat, manusia, dan teknik. Kita harus menjaga taksonomi yang telah ada, sementara system klasifikasi sedang berkembang seiring dengan meningkatnya pengetahuan, konsep filosofi dan teknologi yang tersedia pada msing-masing periode.


Sejarah klasifikasi
Klasifikasi organisme dimulai dari kebutuhan manusia akan tempat tinggal, makanan dan obat-obatan. Taksonomi tumbuhan dibedakan atas 6 periode yaitu:
1. Periode preliterature
Pada periode ini manusia sangat primitive, mereka memperoleh makanan dari berburu dan bercocok tanam. Mereka mengetahui tanaman dari fungsinya untuk dimakan dan obat-obatan. Mereka secara otomatis telah mengklasifikasikannya, mereka mendiskripsikan dan mengklasifikasikannya dari guna dan berbahaya atau tidaknya suatu tanaman dan menempatkannya pada kategori sehingga mudah digunakan sebagai referensi.

2. Literature kuno
Pada periode ini, mereka telah mencapai kesimpulan berdasarkan alasan daripada analisis dari observasi. Mereka telah menuliskan perbedaan antara bagian luar dan bagian dalam organ. Mereka diklasifikasikan dalam pohon, semak, selain semak. Mereka juga terbagi dalam berbunga tiap tahun, terjadi sekali dua tahun, dan morfologi bunga. Dekripsi berdasarkan tanaman obat dipergunakan lebih dari 1500 tahun.

3. Pertengahan
Pada abad ini hanya ada sedikit pembagian taksonomi kecuali Albertus Magnus yang memperkenalkan monokotil dan dikotil, berpembuluh dan tidak berpembuluh.

4. Pembangunan kembali
Pada periode ini telah terdapat perkembangan mengikuti : 1. Telah dilakukan percetakan, 2. Setiap orang telah percaya pada karya asli seseorang, 3. Ilmu navigasi memungkinkan untuk mengoleksi semua tanaman di dunia. Pada periode ini merupkan periode pembelajaran dan melakukan eksplorasi, didapatkan banyak tanaman dan kegunaannya.
Usaha identifikasi berdasarkan masa kuno dengan memperhatikan struktur dan perbedaan pembungaan. Pada akhirnya dikelompokan berdasarkan genus dan family oleh Carls Linnaeus. Dimulailah pembagian taksonomi oleh Adanson. Pemikiran tentang evolusi berhasil diungkapkan oleh Lamark yang menggunakan struktur dalam selain struktur luar dalam klasifikasi olej Candolle.

5. Teori Evolusi
Pencetus teori ini adalah Charles Darwin. Ia memperkirakan bahwa Bumi telah berusia 6000 tahun dan mengalami evolusi yang terakumulasi sehingga terjadi perbedaan. Ia meyakinkan dengan bukti-bukti evolusi yaitu perubahan hidup yang terjadi dan mengutarakan adanya seleksi alam pada mekanisme yang menyebabkan perbedaan. Sama halnya dengan Alfred Wallace perkembangan teori evolusi. Berawal dari itulah dimulai pengumpulan semua data tanaman berdasarkan anatomi, genetika, physiology, paleobotany, chemistry dan palynology.

6. Kebangkitan taksonomi
Melihat dari pembagian taksonomi yang terdahulu, kita dapat memperhatikan jika peraturan pembagian klasifikasi murni penemuan dan wewenang manusia. Taksonomi dimulai dengan adanya perkembangan mikroskop dan teknik modern. Penemuan mikroskop mempermudah untuk mengetahui struktur dalam secara nyata. Rangkaian DNA dan ilmu yang mempelajari tentang organisasi genome dalam tanaman terdeteksi yang digunakan dalam pembagian taksa. Dari sinilah terjadi pembaharuan taksonomi.

Read More....

Genetika Populasi

Pola pewarisan suatu sifat tidak selalu dapat dipelajari melalui percobaan persilangan buatan. Pada tanaman keras atau hewan-hewan dengan daur hidup panjang seperti gajah, misalnya, suatu persilangan baru akan memberikan hasil yang dapat dianalisis setelah kurun waktu yang sangat lama. Demikian pula, untuk mempelajari pola pewarisan sifat tertentu pada manusia jelas tidak mungkin dilakukan percobaan persilangan. Pola pewarisan sifat pada organisme-organisme semacam itu harus dianalisis menggunakan data hasil pengamatan langsung pada populasi yang ada.
Seluk-beluk pewarisan sifat pada tingkat populasi dipelajari pada cabang genetika yang disebut genetika populasi. Ruang lingkup genetika populasi secara garis besar oleh beberapa penulis dikatakan terdiri atas dua bagian, yaitu (1) deduksi prinsip-prinsip Mendel pada tingkat populasi, dan (2) mekanisme pewarisan sifat kuantitatif. Bagian yang kedua ini berkaitan dengan penjelasan pada Bab XIV bahwa analisis genetik sifat-sifat kuantitatif hanya dapat dilakukan pada tingkat populasi karena individu tidak informatif.

Namun, beberapa penulis lainnya, seperti halnya Bab XV ini, menyebutkan bahwa materi yang dibahas dalam genetika populasi hanya meliputi deduksi prinsip-prinsip Mendel pada tingkat populasi.
Populasi dalam arti Genetika
Untuk mempelajari pola pewarisan sifat pada tingkat populasi terlebih dahulu perlu difahami pengertian populasi dalam arti genetika atau lazim disebut juga populasi Mendelian. Populasi mendelian ialah sekelompok individu suatu spesies yang bereproduksi secara seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang sama, dan di antara mereka terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masing-masing akan memberikan kontribusi genetik ke dalam lungkang gen (gene pool), yaitu sekumpulan informasi genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam populasi.

Deskripsi susunan genetik suatu populasi mendelian dapat diperoleh apabila kita mengetahui macam genotipe yang ada dan juga banyaknya masing-masing genotipe tersebut. Sebagai contoh, di dalam populasi tertentu terdapat tiga macam genotipe, yaitu AA, Aa, dan aa. Maka, proporsi atau persentase genotipe AA, Aa, dan aa akan menggambarkan susunan genetik populasi tempat mereka berada. Adapun nilai proporsi atau persentase genotipe tersebut dikenal dengan istilah frekuensi genotipe. Jadi, frekuensi genotipe dapat dikatakan sebagai proporsi atau persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi. Dengan perkataan lain, dapat juga didefinisikan bahwa frekuensi genotipe adalah proporsi atau persentase individu di dalam suatu populasi yang tergolong ke dalam genotipe tertentu. Pada contoh di atas jika banyaknya genotipe AA, Aa, dan aa masing-masing 30, 50, dan 20 individu, maka frekuensi genotipe AA = 0,30 (30%), Aa = 0,50 (50%), dan aa = 0,20 (20%).

Di samping dengan melihat macam dan jumlah genotipenya, susunan genetik suatu populasi dapat juga dideskripsi atas dasar keberadaan gennya. Hal ini karena populasi dalam arti genetika, seperti telah dikatakan di atas, bukan sekedar kumpulan individu, melainkan kumpulan individu yang dapat melangsungkan perkawinan sehingga terjadi transmisi gen dari generasi ke generasi. Dalam proses transmisi ini, genotipe tetua (parental) akan dibongkar dan dirakit kembali menjadi genotipe keturunannya melalui segregasi dan rekombinasi gen-gen yang dibawa oleh tiap gamet yang terbentuk, sementara gen-gen itu sendiri akan mengalami kesinambungan (kontinyuitas). Dengan demikian, deskripsi susunan genetik populasi dilihat dari gen-gen yang terdapat di dalamnya sebenarnya justru lebih bermakna bila dibandingkan dengan tinjauan dari genotipenya.

Susunan genetik suatu populasi ditinjau dari gen-gen yang ada dinyatakan sebagai frekuensi gen, atau disebut juga frekuensi alel, yaitu proporsi atau persentase alel tertentu pada suatu lokus.

Read More....

Struktur Dan Fungsi Jaringan Tumbuhan

A. Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
Seperti pada hewan, tubuh tumbuhan terdiri dari sel-sel. Sel-sel tersebut akan berkumpul membentuk jaringan, jaringan akan berkumpul membentuk organ dan seterusnya sampai membentuk satu tubuh tumbuhan. Berikut jaringan pada tumbuhan.
1. Jaringan meristem
Jaringan meristem merupakan jaringan yang terus menerus membelah. Jaringan meristem dapat dibagi menjadi dua macam sebagai berikut.
a. Jaringan meristem primer
Jaringan meristem yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan embrio. Contoh: ujung batang dan ujung akar. Meristem yang terdapat di ujung batang dan ujung akar disebut meristem apikal. Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer.


b. Jaringan meristem sekunder
Jaringan meristem sekunder merupakan jaringan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem sekunder yaitu kambium.
Kambium merupakan lapisan sel-sel tumbuhan yang aktif membelah dan terdapat diantara xilem dan floem. Aktivitas kambium menyebabkan pertumbuhan sekunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar. Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka). Pertumbuhan kambium ke arah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan ke arah dalam akan membentuk kayu. Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium ke arah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium ke arah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu.
Berdasarkan letaknya, jaringan meristem dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.
a. Meristem apikal merupakan meristem yang terdapat pada ujung akar dan pada ujung batang. Meristem apikal selalu menghasilkan sel-sel untuk tumbuh memanjang. Pertumbuhan memanjang akibat aktivitas meristem apikal disebut pertumbuhan primer. Jaringan yang terbentuk dari meristem apikal disebut jaringan primer.
b. Meristem interkalar atau meristem antara merupakan meristem yang terletak diantara jaringan meristem primer dan jaringan dewasa. Contoh tumbuhan yang memiliki meristem interkalar merupakan batang rumput-rumputan (Graminae). Pertumbuhan sel meristem interkalar menyebabkan pemanjangan batang lebih cepat, sebelum tumbuhnya bunga.
c. Meristem lateral atau meristem samping merupakan meristem yang menyebabkan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan sekunder merupakan proses pertumbuhan yang menyebabkan bertambah besarnya akar dan batang tumbuhan. Meristem lateral disebut juga sebagai kambium. Kambium terbentuk dari dalam jaringan meristem yang telah ada pada akar dan batang dan membentuk jaringan sekunder pada bidang yang sejajar dengan akar dan batang.
2. Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa merupakan jaringan yang sudah berhenti membelah. Jaringan dewasa dapat dibagi menjadi beberapa macam:
a. Jaringan epidermis
Jaringan-epidermis merupakan Jaringan yang letaknya paling luar, menutupi permukaan tubuh tumbuhan. Bentuk jaringan epidermis bermacam-macam. Pada tumbuhan yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder, akar dan batangnya sudah tidak lagi memiliki jaringan epidermis. Fungsi jaringan epidermis untuk melindungi jaringan di sebelah dalamnya.
b. Jaringan parenkim
Jaringan parenkim atau jaringan dasar, dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim dibedakan menjadi beberapa macam sebagai berikut.
1) Parenkim asimilasi (klorenkim) merupakan sel parenkim yang mengandung klorofil dan berfungsi untuk fotosintesis.
2) Parenkim penimbun merupakan sel parenkim ini dapat menyimpan cadangan makanan yang berbeda sebagai larutan di dalam vakuola, bentuk partikel padat, atau cairan di dalam sitoplasma.
3) Parenkim air merupakan sel parenkim yang mampu menyimpan air. Umumnya terdapat pada tumbuhan yang hidup di daerah kering (xerofit), tumbuhan epifit, dan tumbuhan sukulen.
4) Parenkim udara (aerenkim) merupakan jaringan parenkim yang mampu menyimpan udara karena mempunyai ruang antarsel yang besar. Aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun tumbuhan hidrofit.
c. Jaringan penguat/penyokong
Nama lainnya stereon. Fungsinya untuk menguatkan bagian tubuh tumbuhan. Terdiri dari kolenkim dan sklerenkim.
1) Kolenkim
Sebagian besar dinding sel jaringan kolenkim terdiri dari senyawa selulosa merupakan jaringan penguat pada organ tubuh muda atau bagian tubuh tumbuhan yang lunak.
2) Sklerenkim
Selain mengandung selulosa dinding sel, jaringan sklerenkim mengandung senyawa lignin, sehingga sel-selnya menjadi kuat dan keras. Sklerenkim terdiri dari dua macam yaitu serabut/serat dan sklereid atau sel batu. Batok kelapa merupakan contoh yang baik dari bagian tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid.
d. Jaringan pengangkut
Jaringan pengangkut bertugas mengangkut zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Ada 2 macam jaringan; yakni xilem atau pembuluh kayu dan floem atau pembuluh tapis/pembuluh kulit kayu. Xilem bertugas mengangkut air dan garam-garam mineral terlarut dari akar ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Xilem ada 2 macam: trakea dan trakeid. Floem bertugas mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.
e. Jaringan gabus
Fungsi jaringan gabus merupakan untuk melindungi jaringan lain agar tidak kehilangan banyak air, mengingat sel-sel gabus yang bersifat kedap air. Pada dikotil, jaringan gabus dibentuk oleh kambium gabus atau felogen, pembentukan jaringan gabus ke arah dalam berupa sel-sel hidup yang disebut feloderm, ke arah luar berupa sel-sel mati yang disebut felem.

B. Proses Perolehan Nutrisi dan Transformasi Energi pada Tumbuhan Hijau
Tanaman merupakan organisme autotrofik, artinya mampu membentuk makannya sendiri (senyawa organik) dari bahan-bahan anorganik melalui proses fotosintesis. Akar, batang, daun sudah teradaptasi sedemikian rupa untuk mendukung keperluan tumbuhan dalam memperoleh dan mengolah nutrisi baik dari tanah maupun udara. Tumbuhan hijau dapat membuat makanan sendiri dengan fotosintesis. Bahan yang digunakan: air dan karbondioksida dengan bantuan cahaya matahari.

Reaksi fotosintesis:
6CO2 + 6H2O + energi ? C6H12O6 + 6O2
Hasil fotosintesis merupakan glukosa (C6H12O6). Glukosa dalam tubuh tumbuhan dapat diubah menjadi pati, protein, dan lemak dalam proses asimilasi.

Read More....

Lapisan-lapisan kulit dan Fungsinya

Kulit terdiri atas tiga lapisan yaitu :
a. epidermis
Epidermis tersusun oleh sejumlah lapisan sel yang pada dasarnya terdiri atas dua lapisan yaitu Lapisan tanduk Merupakan lapisan epidermis paling luar. Pada lapisan ini tidak terdapat pembuluh darah dan serabut saraf, karena merupakan sel-sel mati dan selalu mengelupas. Lapisan ini terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki dan Lapisan Malpighi Lapisan ini terdapat di bawah lapisan tanduk. Sel-selnya terdapat pigmen yang menentukan warna.


b. dermis
Merupakan lapisan kulit di bawah epidermis, di dalam lapisan ini terdapat beberapa jaringan yaitu:
1). Kelenjar keringat, yang berfungsi untuk menghasilkan keringat. Keringat tersebut bermuara pada pori-pori kulit.
2). Kelenjar minyak, yang berfungsi untuk menghasilkan minyak guna menjaga rambut tidak kering. Kelenjar ini letaknya dekat akar rambut.
3). Pembuluh darah, yang berfungsi untuk mengedarkan darah ke semua sel atau jaringanntermasuk akar rambut.
4). Ujung-ujung saraf. Ujung saraf yang terdapat pada lapisan ini adalah ujung saraf perasa dan peraba.
c. jaringan ikat bawah kulit.
Di bagian ini terdapat jaringan lemak (adiposa). Fungsinya antara lain untuk penahan suhu tubuh dan cadangan makanan.

Read More....

Perbedaan kanker kulit dan biduran ?

Biduran:
Biduran disebabkan oleh udara dingin, alergi makanan, dan alergi bahan kimia. Biduran ditandai dengan timbulnya bentol-bentol yang tidak beraturan dan terasa gatal cara pencegahannya adalah dengan menghindari bahan makanan dan produk kimia yang alergi. Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan resep obat yang diberikan oleh dokter

Kanker Kulit :
Penyakit kanker kulit disebabkan oleh penerimaan sinar matahari yang berlebihan. Penyakit ini lebih sering menyerang orang yang berkulit putih atau terang, karena warna kulit tersebut lebih sensitif terhadap sinar matahari. Pencegahan dapat dilakukan dengan tabir surya atau menghindari kontak dengan sinar matahari yang terlalu banyak.

Read More....

Cara Kerja Pola Pita Protein

1). Ekstraksi sampel
a) Masing-masing sampel dari organ daun dan biji ditimbang 0,2 gram dengan timbangan elektrik.
b) Masing-masing sampel dari organ daun dan biji (@ 0,2 gram) dimasukkan dalam mortar.
c) Buffer ekstraksi 1000 ?l dimasukkan ke dalam mortar dan sampel dihaluskan dengan penggerus sampai larutan homogen, kemudian dituangkan ke dalam tabung eppendorf.
d) Hasil gerusan disentrifugasi pada kecepatan 13000 rpm (Rotary per Minute) selama 5 menit.
e) Supernatan diambil dan dipindahkan ke tabung eppendorf ukuran 1 ml.


2) Penyiapan sampel
a) Sampel hasil ekstraksi diambil 20 µl dan ditambahkan 5 µl loading dye.
b) Campuran sampel dan loading dye dipanaskan pada air mendidih selama 2 menit lalu disimpan semalam dalam freezer.
c) Sampel telah siap untuk running pada gel elektroforesis.

3) Pembuatan gel SDS
a) Glass plate disiapkan, klem, specer, dan dipasang gel stand.
b) Dicampurkan 10 ml larutan stock SDS 10%, 7 µl TEMED, (N,N,N’,N’, tetramethylethylene diamine), dan 80 µl APS (Ammonium Persulphate) pada gelas beker dan aduk sampai rata.
c) Larutan tersebut dituang pada glass plate sampai 1 cm di bawah batas glass plate, diberi isobutanol untuk meratakan permukaan gel.
d) Jika gradien gel telah kering, isobutanol dibersihkan dengan menuang aquades dan diserap dengan tisu kering
e) Tambahkan stecking gel SDS 3% yang terdiri dari 3,5 ml SDS 3%, 10 µl TEMED dan 20 µl APS.
f) Letakkan sisir (comb) pada permukaan Stecking gel.
g) Ditunggu sampai mengeras untuk dapat digunakan dalam elektroforesis.

4) Running protein
a) Gel yang telah siap, dibuka sisir dan klemnya kemudian diletakkan pada alat elektroforesis.
b) Tiap sampel dimasukkan pada sumuran sesuai dengan tempatnya.
c) Dituangkan running buffer hingga menutupi seluruh permukaan gel.
d) Dipasang tutup sesuai dengan tanda polaritasnya.
e) Power supply dijalankan pada tegangan 85 V sehingga loading dye mencapai batas bawah.
f) Setelah loading dye mencapai batas bawah power supply dimatikan dan gel dikeluarkan untuk proses staining.

5). Pewarnaan - Gel dimasukkan ke dalam cawan yang berisi larutan pewarna Commasie blue, dan dibiarkan selama 24 jam.

6). Destaining - Gel dikeluarkan dari larutan pewarna kemudian dibilas dalam aquades, baru kemudian dimasukkan ke dalam larutan destaining selama 4 jam sambil digoyang dengan menggunakan shaker

7). Dokumentasi - Gel yang telah di destaining didokumentasi menggunakan kamera digital dengan sinar tampak dari belakang sampel untuk memperjelas transparasi sampel

9). Penyimpanan - Gel yang telah didokumentasi dipres menggunakan plastik mika dan disimpan dalam almari es.

Read More....

Selasa, 05 April 2011

Manfaat Daun Pepaya untuk Demam Berdarah


Sangat membantu - mohon sebarluaskan, siapa tahu ada yang memerlukan info ini... Semoga bermanfaat.

Saya ingin berbagi info mengenai sesuatu penemuan yg menarik dari anak
teman sekelas yg baru saja sembuh dari penyakit demam berdarah (DB).
Sesungguhnya, anak teman sekelas tersebut sudah dalam kondisi kritis saat di ICU, karena jumlah sel darahnya turun drastis menjadi 15000, sehingga memerlukan transfusi darah sampai 15 liter.

Ayahnya sangat cemas, sehingga dia mencoba mencari info penyembuhan dari teman2nya, agar anaknya dapat diselamatkan. Dia menceritakan, bahwa
anaknya diberi juice daun pepaya. Jumlah darahnya yg semula 45000 setelah diberi 20 ltr transfusi darah, setelah minum juice daun pepaya jumlah butir darahnya naik drastis menjadi 135000. Para dokter dan perawat menjadi terkejut mengetahui hal ini. Pada hari kedua, kondisi anaknya sudah sangat membaik. Maka dia meminta saya agar meneruskan info ini ke teman2 sejawat.


Menurutnya, dua lembar daun pepaya mentah yg sudah dicuci ditumbuk,
diperas dan disaring airnya. Anda akan mendapatkan satu sendok teh air
daun pepaya untuk setiap lembarnya. Dengan begitu, penderita DB kita
beri 2 sendok teh per-hari. Jangan direbus atau disiram air panas, karena akan mengurangi daya sembuhnya. Hanya daunnya yg diperas, jangan
diikutkan kerangka daunnya. Rasanya sangat pahit, jadi harus sekali telan.

*_Cerita lain mengenai juice daun pepaya sebagai obat DB._*
Anda mungkin pernah mendengar hal ini di tempat lain. Kalau belum, saya
dengan gembira ingin memberitahukan kepada anda bahwa juice pepaya
merupakan obat alamiah untuk demam berdarah (dengue). Mengingat DB
sekarang sedang mewabah, alangkah baiknya untuk meneruskan hal ini ke
teman2 lainnya.

Teman saya pernah menderita demam ini tahun lalu. Kondisinya sangat
serius mengingat jumlah butir darah ibu tersebut turun drastis sampai 28000 setelah 3 hari dirawat di RS, dan air mulai masuk ke paru2nya. Hal ini menyebabkan dia sulit bernafas. Dia berumur 32th. Menurut dokter, tidak ada obat untuk penyakit DB. Kita hanya dapat menunggu sampai daya tahan tubuhnya bangkit dan melawan virus DB. Ibu itu telah diberi 2 liter transfusi darah. Kami dapatnya hanya berdoa terus, mengingat jumlah butir darahnya turun terus sejak pertama kali masuk RS.

Beruntung ibu mertuanya pernah dengar bahwa juice daun pepaya dapat
menyembuhkan demam. Dia cari daun pepaya, ditumbuk dan diperas airnya
untuk diminumkan ke menantunya. Hari berikutnya, jumlah butir darahnya
mulai naik, dan demamnya hilang. Kami terus memberikan juice daun pepaya, dan ibu tersebut sembuh dalam 3 hari.

Sungguh menakjubkan, tetapi itu betul2 terjadi. Adalah kenyataan bahwa
setiap penderita DB suhu tubuhnya akan panas sekali, dan dipercaya bahwa
juice daun pepaya mempunyai efek pendinginan sehingga dapat menurunkan suhu tubuh yg sedang demam. Juga diketahui bahwa juice daun pepaya dapat menyembuhkan seseorang yg sedang sakit tenggorokan maupun seseorang yg takut terhadap cuaca panas.

Mohon agar menyebar-luaskan hal ini, mengingat penderita DB makin
mewabah akhir2 ini. Adalah sungguh menggembirakan kalau pengobatan alami ini dapat membantu penyembuhan para penderita DB.

Disamping itu, pembuatannyapun sungguh mudah. Tumbuk dan peras daun
pepaya. Sungguh sederhana proses pembuatannya, tetapi hasilnya sangat
menakjubkan.

Read More....

Budidaya Mangga


1. SEJARAH MANGGA

MANGGA = ( Mangifera spp. )

Mangga merupakan tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari negara
India. Tanaman ini kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk
Malaysia dan Indonesia.

2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman mangga adalah sebagai berikut:

Divisi: Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae

Kelas: Dicotyledonae
Keluarga: Anarcadiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: Mangifera spp.

Jenis yang banyak ditanam di Indonesia Mangifera indica L. yaitu mangga arumanis,
golek, gedong, manalagi dan cengkir dan Mangifera foetida yaitu kemang dan kweni.


3. MANFAAT TANAMAN
Buah mangga yang matang merupakan buah meja yang banyak digemari. Mangga
yang muda dapat diawetkan dengan kadar gula tinggi menjadi manisan baik dalam
bentuk basah atau kering.

4. SENTRA PENANAMAN
Pusat penanaman mangga di Pulau Jawa adalah Probolinggo, Indramayu, Cirebon.
Tahun 1994 jumlah tanaman yang menghasilkan adalah 8.901.309 tanaman dengan
produksi 668.048 ton.

5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
Tanaman mangga cocok untuk hidup di daerah dengan musim kering selama 3
bulan. Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di
daerah basah, tanaman mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur
bunga/buah jika bunga muncul pada saat hujan.

5.2. Media Tanam
1) Tanah yang baik untuk budidaya mangga adalah gembur mengandung pasir dan
lempung dalam jumlah yang seimbang.
2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok adalah 5.5-7.5. Jika pH di bawah
5,5 sebaiknya dikapur dengan dolomit.

5.3. Tempat Ketinggian
Mangga yang ditanam didataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 m
dpl menghasilkan buah yang lebih bermutu dan jumlahnya lebih banyak dari pada di
dataran tinggi.

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Perbanyakan dengan Biji

a) Biji dipilih dari tanaman yang sehat, kuat dan buahnya berkualitas. Biji
dikeringanginkan dan kulitnya dibuang.

b) Siapkan kotak persemaian ukuran 100 x 50 x 20 cm3 dengan media tanah
kebun dan pupuk kandang (1:1), biji ditanam pada jarak 10-20 cm. Dapat pula
mangga disemai dikebun dengan jarak tanam 30 x 40 atau 40 x 40 cm di atas
tanah yang gembur. Persemaian diberi naungan dari plastik/sisa-sisa tanaman,
tetapi jangan sampai udara di dalam persemaian menjadi terlalu lembab.

Biji ditanam dengan perut ke arah bawah supaya akar tidak bengkok. Selama
penyemaian, bibit tidak boleh kekurangan air. Pada umur 2 minggu bibit akan
berkecambah. Jika dari 1 biji terdapat lebih dari 1 anakan, sisakan hanya satu
yang benar-benar kuat dan baik.

Bibit di kotak persemaian harus dipindahtanamkan ke dalam polybag jika tingginya
sudah mencapai 25-30 cm.

Seleksi bibit dilakukan pada umur 4 bulan, bibit yang lemah dan tumbuh abnormal
dibuang. Pindahtanam ke kebun dilakukan jika bibit telah berumur 6 bulan.

2) Okulasi
Perbanyakan terbaik adalah dengan okulasi (penempelan tunas dari batang atas
yang buahnya berkualitas ke batang bawah yang struktur akar dan tanamannya
kuat). Batang bawah untuk okulasi adalam bibit di persemaian yang sudah
berumur 9-12 bulan. Setelah penempelan, stump (tanaman hasil okulasi)
dipindahkan ke kebun pada umur 1,5 tahun. Okulasi dilakukan di musim kemarau
agar bagian yang ditempel tidak busuk.

3) Pencangkokan
Batang yang akan dicangkok memiliki diameter 2,5 cm dan berasal dari tanaman
berumur 1 tahun. Panjang sayatan cangkok adalah 5 cm. Setelah sayatan diberi
tanah dan pupuk kandang (1:1), lalu dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa.

6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Penetapan areal untuk perkebunan mangga harus memperhatikan faktor
kemudahan transportasi dan sumber air.

2) Pembukaan Lahan
a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta
menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.

3) Pengaturan Jarak Tanam
Pada tanah yang kurang subur, jarak tanam dirapatkan sedangkan pada tanah
subur, jarak tanam lebih renggang. Jarak tanam standar adalah 10 m dan diatur
dengan cara:
a) segi tiga sama kaki.
b) diagonal.
c) bujur sangkar (segi empat).

6.3. Teknik Penanaman

1) Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan panjang, lebar dan kedalaman 100 cm. Pada waktu
penggalian, galian tanah sampai kedalaman 50 cm dipisahkan dengan galian dari
kedalaman 50-100 cm. Tanah galian bagian dalam dicampur dengan pupuk
kandang lalu dikeringanginkan beberapa hari. Masukkan tanah galian bagian atas,
diikuti tanah galian bagian bawah. Pembuatan lubang tanam dilakukan pada
musim kemarau.

2) Cara Penanaman
Lubang tanam yang telah ditimbun digali kembali dengan ukuran panjang dan
lebar 60 cm pada kedalaman 30 cm, taburi lubang dengan furadan 10-25 gram.
Polibag bibit digunting sampai ke bawah, masukkan bibit beserta tanahnya dan
masukkan kembali tanah galian sampai membentuk guludan. Tekan tanah di
sekitar batang dan pasang kayu penyangga tanaman.

3) Penanaman Pohon Pelindung
Pohon pelindung ditanam untuk menahan hembusan angin yang kuat. Jenis yang
biasa dipakai adalah pohon asam atau trembesi.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyiangan
Penyiangan tidak dapat dilakukan sembarangan, rumput/gulma yang telah dicabut
dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh lagi.
Penyiangan juga biasa dilakukan pada waktu penggemburan dan pemupukan.

2) Penggemburan/Pembubunan
Tanah yang padat dan tidak ditumbuhi rumput di sekitar pangkal batang perlu
digemburkan, biasanya pada awal musim hujan. Penggemburan tanah di kebun
mangga cangkokan jangan dilakukan terlalu dalam.

3) Perempelan/Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk kanopi yang baik dan meningkatkan
produksi. Ketika tanaman telah mulai bertunas perlu dilakukan pemangkasan
tunas agar dalam satu cabang hanya terdapat 3–4 tunas saja. Tunas yang dipilih
jangan terletak sama tinggi dan berada pada sisi yang berbeda. Tunas dipelihara
selama kurang lebih 1 tahun saat tunas-tunas baru tumbuh kembali. Pada saat ini
dilakukan pemangkasan kedua dengan meninggalkan 2-3 tunas. Pemangkasan
ketiga, 1 tahun kemudian, dilakukan dengan cara yang sama dengan
pemangkasan ke-2.

4) Pemupukan
a) Pupuk organik
1. Umur tanaman 1-2 tahun: 10 kg pupuk kandang, 5 kg pupuk kandang.
2. Umur tanaman 2,5–8 tahun: 0,5 kg tepung tulang, 2,5 kg abu.
3. Umur tanaman 9 tahun: tepung tulang dapat diganti pupuk kimia SP-36, 50
kg pupuk kandang, 15 kg abu.
4. Umur tanaman > 10 tahun: 100 kg pupuk kandang, 50 kg tepung tulang, 15
kg abu.
Pupuk kandang yang dipakai adalah pupuk yang sudah tercampur dengan
tanah. Pemberian pupuk dilakukan di dalam parit keliling pohon sedalam
setengah mata cangkul (5 cm).
b) Pupuk anorganik
1. Umur tanaman 1-2 bulan : NPK (10-10-20) 100 gram/tanaman.
2. Umur tanaman 1,5-2 tahun: NPK (10-10-20) 1.000 kg/tanaman.
3. Tanaman sebelum berbunga: ZA 1.750 gram/tanaman, KCl 1.080
gram/tanaman.
4. Tanaman waktu berbunga : ZA 1.380 gram/tanaman, Di kalsium fosfat 970
gram/tanaman, KCl 970 gram/tanaman.
5. Tanaman setelah panen: ZA 2700 gram/tanaman, Di kalsium fosfat 1.940
gram/tanaman, KCl 1.940 gram/tanaman.

5) Peningkatan Kuantitas Buah
Dari sejumlah besar bunga yang muncul hanya 0,3% yang dapat menjadi buah
yang dapat dipetik. Untuk meningkatkan persentase ini dapat disemprotkan
polinator maru atau menyemprotkan serbuk sari diikuti pemberian 300 ppm
hormon giberelin. Dengan cara ini, persentase pembentukan buah yang dapat
dipanen dapat ditingkatkan menjadi 1,3%.

7. Hama dan Penyakit Mangga
1) Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis) - Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah
yang menyebabkan kepik tidak bertelur.
2) Bubuk buah mangga - Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah
terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah
mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus,
mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke
tanah yang telah dicangkul.
3) Bisul daun(Procontarinia matteiana.)
Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan
kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord,
Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang
terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan
memperbaiki aerasi.
4) Lalat buah - Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan
memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil
eugenol di dalam wadah dan insektisida.
5) Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni) - Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang
daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga
mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang
membeku menimbulkan jamur kerak hitam. Pengendalian dengan insektisida
Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.
6) Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus) - Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang
kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang
rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang,
insektisida Diazinon atau Basudin.
7) Codot - Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan
semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit
dan melindungi pohon dengan jaring.

1) Penyakit mangga
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga
menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung.
Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.

2) Penyakit diplodia
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi.
Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.

3) Cendawan jelaga
Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun
mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan
oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas
serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung
belerang.

4) Bercak karat merah
Penyebab: jamur Col etotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga
dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat
mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang,
ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.

5) Kudis buah
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak
kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga
berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali
seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.

6) Penyakit Blendok
Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh
kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah
warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit,
lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan
menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.

7. Gulma
Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan
tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang
yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat.


8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Mangga cangkokan mulai berbuah pada umur 4 tahun, mangga okulasi pada umur
5-6 tahun. Banyaknya buah panen pertama hanya 10-15 buah, pada tahun ke 10
jumlah buah dapat mencapai 300-500 buah/pohon. Panen besar biasanya jatuh di
bulan September-Oktober.

Tanda buah sudah dapat dipanen adalah adanya buah yang jatuh karena matang
sedikitnya 1 buah/pohon, warna buah arumanis/manalagi berubah menjadi hijau tua
kebiruan, warna buah mangga golek/gedok berubah menjadi kuning/merah Buah
yang dipetik harus masih keras.

8.2. Cara Panen

Pada saat pemetikan, buah jangan sampai terpotong, tercongkel atau jatuh sampai
memar. Buah dipetik di sore hari dengan menggunakan pisau tajam atau dengan
galah yang diujungnya terdapat pisau dan keranjang penampung buah.

8.3. Periode Panen

Di Indonesia pohon mangga berbunga satu tahun sekali sehingga panen dilakukan
satu periode dalam satu tahun. Dari satu pohon, buah tidak akan masak bersamaan
sehingga dilakukan beberapa kali panen.

8.4. Perkiraan Produksi

Pohon muda okulasi menghasilkan 50-100 buah/tahun, meningkat sampai 300-500
buah pada umur 10 tahun, 1.000 buah pada umur 15 tahun dan 2.000 buah pada
waktu produksi maksimum di umur 20 tahun.


9. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Buah hasil panen dikumpulkan di tempat yang teduh.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan




Mangga yang rusak dipisahkan dengan mangga yang mulus. Setelah sortasi buah
mangga dilap untuk menghilangkan getah yang dapat menurunkan mutu terutama
jika buah akan dipasarkan ke pasar swalayan atau luar negeri.

Buah yang akan dipasarkan di dalam negeri dapat diperam untuk mempercepat
pemasakan. Sortasi didasarkan berat buah atau ukuran buah. Kelas berdasarkan
berat buah antara lain:
a) Kelas I: > 320 gram/buah
b) Kelas II: 270 - 320 gram/buah
c) Kelas III: 200 - 270 gram/buah

Sedangkan berdasarkan ukuran buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Klasifikasi Besar: arum manis > 17,5 cm, golek > 20 cm
b) Klasifikasi Sedang: arum manis 15 - 17,5 cm, golek 17,5 - 20 cm
c) Klasifikasi Kecil: arum manis < 15 cm, golek < 17,5 cm

9.3. Penyimpanan

Buah mangga yang telah dipetik disimpan ditempat yang kering, teduh dan sejuk.


Read More....

Rabu, 23 Maret 2011

Kultur Jaringan Melati

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Melati yaitu tanaman perdu yang memiliki pesona tersendiri terutama pesona harumnya. Selain untuk tanaman hias, melati banyak diminati industri untuk di ambil ekstraknya. Dalam perdagangan local, melati banyak diminati. Sedangkan dalam perdagangan internasional, melati telah memasuki pasaran eksport walaupun kontinuitasnya belum stabil.Meningkatnya kebutuhan akan melati, membuka peluang agribisnis yang luas.
Kultur invitro atau kultur jaringan yaitu alternative keberhasilan para bisnisman dalam membantu penyediaan bibit yang tahan penyakit dan dapat menyediakan bibit dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, jika yang dibutuhkan yaitu ekstraknya yang yaitu hasil metabolisme sekunder maka dapat mengambil alternatife kultur kalus.
Metode kultur invitro yaitu metode yang menguntungkan dan praktis untuk dapat dikembangkan, bertaraf internasional dan memiliki lebih bayak keunggulan.

2. Tujuan
Praktikum acara kultur jaringan tanaman melati memiliki tujuan antara lain:
b. Mengetahui teknik kultur jaringan melati.
c. Mengetahui pengaruh BAP dan Paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan melati.



3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara III ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Desember 2007 pukul 09.00 WIB sampai selesai bertempat di Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Kultur jaringan yaitu suatu metode untuk mengisolasi bagian dari suatu tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali (Gunawan, 2005).
Perbanyakan melati dengan kultur jaringan dilakukan di laboratorium, ditumbuhkan secara invitro. Benih yang dihasilkan dalam jumlah besar, dalam waktu yang relatif singkat. Perbanyakan dengan kultur jaringan memerlukan kondisi dan media yang khusus. Perbanyakan didapat dari setiap sel tanaman, menghasilkan individu baru yang sama dengan induknya (Anonim, 2006).
Zat pengatur tumbuh memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kultur. Faktor yang perlu mendapatkan perhatian ZPT antara lain jenis zat pengatur tumbuh yang akan digunakan, konsentrasi dan urutan penggunaan ( Mandang, 1993 )
Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin berpengaruh terutama pada pembelahan sel. Bersama – sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap diferensiasi jaringan. Pada pemberian auksin dengan kadar yang relatif tinggi, differensiasi kalus cenderung kearah pembentukan primordial akar. Sedangkan pada pemberian sitokinin dengan kadar yang relatif tinggi, diferensiasi kalus akan cenderung kea rah pembentukan batang / tunas ( Hendaryono dan Wijayani, 1994)
Bunga melati mengandung jasmon, sejenis keton yang mudah menguap. Keton ini bersifat menyejukkan dan mampu menurunkan suhu badan saat demam. Minyak bunga melati jenis Jasminus officinale mampu menenangkan urat syaraf jika digunakan untuk mengurut. Untuk penurun demam digunakan segenggam daun muda yang ditumbuk, dicampur dengan setengah genggam bunga melati yang diremas-remas. Campuran ini diletakkan secara merata pada dada anak yang sedang demam (Thomas,1995).

C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. LAFC lengkap dengan lampu bunsen
b. Petridish dan botol-botol kultur
c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes

2. Bahan
a. Eksplan : Mawar
b. Media Kultur
c. Alkohol 96%
d. Aquadest steril
e. Spirtus
f. Chlorox (sunclin)

3. Cara Kerja
a. Mempersiapkan eksplan
b. Mensterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC)
o Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama ± 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5, 25% (sunclin 100%) selama ± 3 menit.
o Membilas eksplan dengan aquadest steril.
c. Menanam eksplan
o Membuka plastik penutup botol media kultur.
o Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api.
o Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi.
d. Memelihara eksplan
o Menempatkan botol-botol media berisi eksplan pada rak-rak kultur.
o Menjaga Suhu, kelembaban dan pencahayaan lingkungan di luar botol.
o Menyemprot botol-botol kultur dengan spirtus setiap 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi.
e. Melakukan pengamatan selama 5 minggu, meliputi:
o Saat muncul akar, tunas, daun dan kalus (HST), diamati setiap hari.
o Jumlah akar, tunas dan daun, diamati 1 minggu sekali.
o Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan.
o Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan.
.

C. Hasil dan Pembahasan
1. Analisis Hasil Pengamatan
Perhitugan Persentase Keberhasilan :
Eksplan melati yang masih hidup = 2
Persentase Keberhasilannya =
=33.3 %
2. Pembahasan
Kultur jaringan melati pada acara III ini dilakukan dengan langkah-langkah yang sama dengan kultur jaringan mawar sehingga tidak perlu pan jang lebar lagi dan langsung saja pada hasil pengamatan. Pengamatan pada eksplan melati dari awal pengamatan yaitu pada 1 HST hingga akhir pengamatan yaitu 34 HST selalu stagnan. Eksplan sama skali tidak mau tumbuh, malahan cenderung menuju kematian ( Terkena kontaminasi jamur ).
Dari hari ke hari, semakin banyak eksplan yang terkontaminasi jamur. Diakhir pengamatan, jumlah eksplan yang terkontaminasi ada 4. Dua eksplan lainnya masih saja mengalami stagnasi. Sehingga persentase keberhasilan pada eksplan melati ini yaitu 33,3 %. Nilai ini sama dengan nilai prosentase keberhasilan pada eksplan mawar dan saya rasa kultur jaringan pada eksplan melati ini mengalami kegagalan. Jika dilihat dari latar belakang pertumbuhannya,sepertinya masih lebih baik eksplan mawar. Pada eksplan mawar ada yang muncul tunas sedangkan pada eksplan melati sama sekali tidak mengalami pemunculan apapun. Penyebab kegagalan secara pastinya kurang begitu saya katahui.
Seperti pada kuljar eksplan mawar, saya hanya dapat mengemukakan beberapa sebab diantaranya:dimungkinkan karna banyak hal misalnya sterilisasi alat yang kurang optimal / steril; Adanya pengaruh fisik atau biokimia pada eksplan yang kurang bagus (memar, pengupasan, pemotongan, serangan penyakit atau kondisi lain yang tidak normal), bisa juga eksplan telah mengalami gejala alamiah dari proses penuaan tapi tetap dipakai; Sterilisasi eksplan yang mungkin terlalu lama dalam perendaman chlorox sehingga eksplan “terlalu steril” sehingga malah tidak dapat hidup / tumbuh; Saat penanaman praktikan terlalu banyak bicara,tanpa sengaja tangan praktikan keluar dari laminair air flow dan masuk lagi tanpa sterilisasi pada saat penanaman; Mungkin juga karna pemeliharaannya yang tidak cukup baik dalam penjagaan suhu, kelembaban, dan pencahayaannya serta seperti yang tersebut diatas yaitu karna kurang rutinnya penyemprotan spirtus sehingga menimbulkan kontaminasi; Hal lain lagi yang bias menyebabkan kegagalan yaitu pada pembuatan media, baik karna komposisi medianya yang kurang optimal atau karna pH media yang kurang tepat.
Dari semua kemungkinan penyebab terjadinya kontaminasi, hal yang menurut saya paling mendasari terjadinya kontaminasi yaitu disebabkan oleh kekurang tepatan dalam proses pembutan media, dan mungkin karna perendaman eksplan dalam chlorox yang terlalu lama.

D. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum acara III ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
- Eksplan melati yang terkontaminasi ada empat.
- Eksplan melati dalam keadaan stagnan ada dua ( dianggap hidup )
- Dari keenam ulangan eksplan melati sama sekali belum muncul daun akar dan kalus.
- Persentase keberhasilannya 33.3%.
- BAP dan Paclobutrazol tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan kultur jaringan melati.
2. Saran
Mengulangi lagi percobaan ini agar dapat diketahui pengaruh BAP dan paclobutrazol secara tepat pada melati serta lebih menjaga kesterilan tempat dan diri.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Perbanyakan Benih Tanaman Hias Melati. http://distan.jakarta.go.id/today/artikelview.html. Diakses pada Tanggal 14 Desember 2007 pukul 20.10 WIB.
Gunawan, L. W. 2005. Teknik Kultur Jaringan. IPB. Bandung.
Hendaryono dan Wijayani. 1994. Perbanyakan Vegetatif Melalui Kultur Jaringan pada Tanaman Jahe. Jurnal Penelitian Tanaman Industri (4).
Mandang. 1993. Kultur Jaringan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Thomas, A.N.S. 1995. Tanaman Obat Tradisional. Yayasan Kanisius.Yogyakarta.

Read More....

Kultur Jaringan Mawar

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Mawar adalah tanaman bunga yang banyak diminati dan sangat familiar sekali dalam bidang hortikultura. Disetiap toko bunga, mawar selalu ada dan selalu tersedia. Mawar mempunyai prospek sangat baik sekali sebagai usaha agribisnis, karena mawar banyak disukai oleh masyarakat.
Manusia selalu mencari metode yang tepat untuk dapat menyediakan komoditas-komoditas yang dibutuhkan secara kontinue. Metode kultur invitro adalah metode yang menguntungkan dan praktis untuk dapat dikembangkan.
Salah satu usaha dalam menyediakan bibit mawar yang tahan penyakit dengan menerapkan teknologi yang tepat guna yaitu dengan cara teknik kultur jaringan dengan memanfaatkan batang dari tanaman mawar sebagai eksplannya. Dengan teknik tersebut dapat menciptakan bibit yang tahan penyakit dan dapat menyediakan bibit dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang relatif singkat..
Kultur jaringan tanaman akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi : pemilihan eksplan atau bahan tanaman, penggunaan media yang sesuai, keadaan yang aseptik dan pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai.


2. Tujuan
Praktikum acara II ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui teknik kultur jaringan mawar.
b. Mengetahui pengaruh BAP dan Paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan mawar.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara II ini dilaksanakan pada hari Rabu 5 Desember 2007 pukul 09.00 WIB sampai selesai bertempat di Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Kultur jaringan dikembangkan sebagai salah satu metode untuk menghilangkan virus. Selain itu, metode ini juga dapat dipakai untuk perbanyakan cepat tanam bebas virus atau penyimpanan genetic. Menurut Gunawan ( !995 ), dalam kultur jaringan terdapat beberapa aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan tanaman, antara lain keseimbangan zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam media. Keseimbangan zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam media menentukan arah suatu kultur.
Empat kelas zat pengatur tumbuh ( ZPT ) penting dalam kultur jaringan tanaman adalah auksin, sitokinin, giberelin dan asam absisat. Perbandingan antara sitokinin dan auksin menentukan tipe organogenesis dalam kultur jaringan. Keduanya baik sitokinin atau auksin biasanya digunakan untuk mendapatkan morfogenesis, meskipun rasio untuk mendaparkan akar atau tunas tidak selalu sama baik antar spesies atau genus ( Wardiati, 1998 )
Golongan sitokinin yang sering ditambahkan dalam media antara lain adalah BAP. BAP adalah golongan sitokinin aktifyang bila diberikan pada tunas pucuk akan mendorong proliferasi tunas yaitu keluarnya tunas lebih dari satu ( Wilkins, 1989 )
Media yang digunakan dalam kultur jaringan mawar mempunyai komposisi media yang berbeda jenis bahan kimia atau konsentrasinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan mawar yang ditumbuhkan secara invitro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara mikro, makro dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman (Marlina, 2004).
Kultur jaringan memerlukan kecermatan tinggi dan keadaan serba suci hama. Baik tempat kerja, alat-alat dan bahan, serta tenaga orang yang mengerjakannya harus steril. Untuk membuat suci hama harus dipakai pemanasan dalam autoklaf, desinfektan atau lampu ultraviolet. Dengan autoklaf, desinfektan atau lampu ultraviolet, mikroba-mikroba pengganggu dapat dimatikan. Kultur yang sudah tercemar bakteri atau jamur tidak dapat dipertahankan sehingga harus dibuang. Pencemaran jamur atau bakteri akan nampak beberapa hari setelah tanam berupa koloni jamur atau bakteri dipermukaan media agar-agar atau keruhnya media cair (Rahardja, 1988).


C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. LAFC lengkap dengan lampu bunsen
b. Petridish dan botol-botol kultur
c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes
2. Bahan
a. Eksplan : Mawar
b. Media Kultur
c. Alkohol 96%
d. Aquadest steril
e. Spirtus
f. Chlorox (sunclin)
3. Cara Kerja
a. Mempersiapkan eksplan
b. Mensterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC)
- Merendam eksplan dalam larutan Dithane M-45 3 mg/l selama ± 12 jam, dilanjutkan dengan chlorox 5, 25% (sunclin 100%) selama ± 3 menit.
- Membilas eksplan dengan aquadest steril.
c. Menanam eksplan
- Membuka plastik penutup botol media kultur.
- Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api.
- Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi.
d. Memelihara eksplan
- Menempatkan botol-botol media berisi eksplan pada rak-rak kultur.
- Menjaga Suhu, kelembaban dan pencahayaan lingkungan di luar botol.
- Menyemprot botol-botol kultur dengan spirtus setiap 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi.
e. Melakukan pengamatan selama 5 minggu, meliputi:
- Saat muncul akar, tunas, daun dan kalus (HST), diamati setiap hari.
- Jumlah akar, tunas dan daun, diamati 1 minggu sekali.
- Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus), dilakukan pada akhir pengamatan.
- Persentase keberhasilan, dilakukan pada akhir pengamatan.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil pengamatan
Tabel 2.1 Saat Muncul Tunas Tanaman Mawar
Macam Eksplan Ulangan Saat Muncul Tunas
Mawar 1 24 HST
2 Kontaminasi
3 Kontaminasi
4 Kontaminasi
5 _
6 Kontaminasi
Sumber: Data Rekap

2. Analisis Hasil Pengamatan
Perhitugan Persentase Keberhasilan :
Eksplan mawar yang masih hidup = 2
Persentase Keberhasilannya =
=33.3 %

3. Pemmbahasan
Kultur jaringan mawar pada acara II ini dilakukan dengan langkah – langkah yang pertama meliputi persiapan eksplan. Persiapan eksplan dilakukan dengan inisiasi yang adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan di kulturkan. Dalam acara ini tentunya dari tanaman mawar, sedangkan untuk spesifiknya mawar jenis ap, kurang begitu diketahui. Adapun bagian tanaman yang di ambil untuk eksplan adalah bagian batang meristemnya,sehingga dapat dikatakan juga pada acara ini melakukan kultur meristem yang biasa digunakan untuk menghasilkan tanaman bebas virus.
Kedua, dilakukan sterilisasi eksplan yang adalah usaha untuk membebaskan eksplan dari mikroba yang menginfeksinya. Hal tersebut dilakukan dengan cara perendaman eksplan kedalam larutan dithane M – 45 3 mg / L selama kurang lebih 12 jam, dilanjutkan dengan direndam dalam chlorox 5,25 % selama kurang lebih 3 menit dan kemudian membilas eksplan dengan aquades steril.
Ketiga penanaman eksplan, Eksplan yang telah disiapkan dan telah disterilisasi siap untuk ditanam. Penanamannya menggunakan media yang telah dibuat pada acara I. Ketentuan lebih jelasnya telah terdapat pada cara kerja. Penanaman eksplan diulang sebanyak dua kali untuk setiap praktikan, Berhubung kelompok kami ( kelompok 8 ) terdiri dari 3 orang maka jumlah eksplan yang di tanam adalah 6 buah.
Setelah penanaman, hal terpenting adalah pemeliharaan. Botol – botol kultur berisi media eksplan dipelihara dalam ruang kultur aseptic ( steril ) dengan suhu, kelembaban, dan pencahayaan yang tepat. Pemeliharaan juga meliputi penyemprotan botol – botol kultur dengan spirtus yang dilakukan tiap 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi. Tapi pada kenyataannya, penyemprotan botol – botol kultur pada kelompok kami kurang teratur. Hal ini dikarenakan jatuhnya hari penyemprotan terkadang bertepatan dengan hari libur dan bertepatan dengan hari saat tidak ke kampus, lupa, atau bahkan kelebihan penyemprotan (double penyemprotan dalam 1 hari ) karna kurang ter koordinasinya praktikan.
Terakhir tentunya adalah kegiatan mengamati. Pengamatan dimulai dari 1 HST ( hari setelah tanam ) sampai 34 HST. Pada tanggal 29 desember 2007 atau 24 HST pada eksplan mawar ulangan ke satu mulai tumbuh tunas. Sedangkan eksplan mawar ulangan ke-2, 3 dan 6 telah terkena kontaminasi sehingga eksplan disinggkirkan dengan tujuan agar eksplan lainnya tidak ikut terkontaminasi. Kontaminasi tersebut ditandai karna adanya jamur yang berwarna kecoklatan, kehijauan, kekuningan, kehitaman dan ada juga jamur yang berwarna putih. Kontaminasi sangat umum terjadi saat kultur jaringan, adalah gangguan yang tidak dapat dielakkan. Sisa 2 eksplan yang lainnya mengalami stagnasi. Hidup segan, mati tak mau. Keadaannya tetap, tidak ada perubahan dan perkembangannya.
Tunas yang muncul pada 24 HST berwarna hijau muda berbentuk kuncup yang mengintip. Pada hari-hari berikutnya tunas sudah mulai membesar walaupun masih berbentuk kuncup dan belum muncul daun, ini sudah cukup menggembirakan karna sudah mengalami perkembangan. Tapi sayangnya, pada hari tarakhir pengamatan yaitu tanggal 8 januari 2008, botol eksplan menghilang. Sehingga tidak diketahui secara pasti kelanjutan perkembangannya. Eksplan ini tetap dianggap hidup dan dimasukkan dalam perhitungan persentase hidup.
Untuk eksplan yang mengalami kontaminasi, pada hari terakhir jumlahnya bertambah menjadi 4 eksplan. Eksplan ini tentunya dianggap mati dan tidak dimasukan dalam perhitugan persentase hidup. Sisa 1 eksplan yang tetap dalam keadaan stagnan / tetap. Eksplan ini dianggap hidup dan dimasukkan dalam perhitungan persentase hidup. Jadi eksplan yang hidup secara keseluruhan berjumlah 2 dari 6 eksplan yang ditanam. Sehingga prosentase keberhasilan yang didapat dari praktikum kelompok kami adalah 33,3 %. Ini termasuk nilai keberhasilan yang rendah. Dan dilihat dari latar belakang kejadian saat pengamatan serta sama sekali tidak munculnya kalus, daun, apalagi akarnya maka dapat dikatakan percobaan termasuk gagal.
Kegagalan tersebut dimungkinkan karna banyak hal misalnya sterilisasi alat yang kurang optimal / steril; Adanya pengaruh fisik atau biokimia pada eksplan yang kurang bagus (memar, pengupasan, pemotongan, serangan penyakit atau kondisi lain yang tidak normal), bisa juga eksplan telah mengalami gejala alamiah dari proses penuaan tapi tetap dipakai; Sterilisasi eksplan yang mungkin terlalu lama dalam perendaman chlorox sehingga eksplan “terlalu steril” sehingga malah tidak dapat hidup / tumbuh; Saat penanaman praktikan terlalu banyak bicara,tanpa sengaja tangan praktikan keluar dari laminair air flow dan masuk lagi tanpa sterilisasi pada saat penanaman; Mungkin juga karna pemeliharaannya yang tidak cukup baik dalam penjagaan suhu, kelembaban, dan pencahayaannya serta seperti yang tersebut diatas yaitu karna kurang rutinnya penyemprotan spirtus sehingga menimbulkan kontaminasi; Hal lain lagi yang bias menyebabkan kegagalan adalah pada pembuatan media, baik karna komposisi medianya yang kurang optimal atau karna pH media yang kurang tepat.
Penyebab kegagalan itu tidak dapat saya ketahui secara pasti, saya hanya dapat mengira-ngira kemungkinan-kemungkinan penyebab kegagalan seperti yag telah diuraikan diatas. Kesterilan bukan jaminan untuk keberhasilan kultur jaringan. Karna fakta membuktikan walaupun sudah seoptimal mungkin menjaga kesterilan, eksplan tetap terkena kontaminasi dan mati. Sedangkan yang kurang steril, eksplannya malah dapat hidup, tumbuh dan berkembang.

E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum acara kultur jaringan tanaman mawar maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Eksplan mawar yang terkontaminasi ada empat yaitu pada ulangan ke-2, ke-3 dan ke-6.
b. Eksplan mawar yang dalam keadaan stagnan ada satu ( dianggap hidup )
c. Jumlah eksplan yang muncul tunasnya terdapat pada ulangan ke-1.
d. Dari enam ulangan eksplan mawar belum muncul daun, akar dan kalus.
e. Persentase keberhasilannya 33.3%.
f. BAP dan Paclobutrazol tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan kultur jaringan melati.


2. Saran
Mengulangi lagi percobaan ini dan lebih menjaga kesterilan tempat ( laboratorium ) dan diri.

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan. 1995. Metode Kultur Jaringan Tanaman. ITB. Bandung.
Marlina, N. 2004. Teknik Modifikasi Media Murashige dan Skoog (MS) untuk Konservasi Invitro Mawar (Rossa spp.). http://www.pustaka_deptan.go.id/publikasi/bt091042.pdf. Diakses pada tanggal 9 Januari 2008 pukul 20.00 WIB.
Rahardja, P.C. 1988. Kultur Jaringan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wilkins. 1989. A Technique For The Controlled Growth of Excised Plant Tissue in Liquid Media Under Aseptic Conditions. Nature. Vol. 163 : 920-921.
Wardiati . 1998. Zat Pengatur Tumbuh. Wirastama. Yogyakarta.

Read More....

Sterilisasi Alat Dan Pembuatan Media Kultur

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kultur jaringan tanaman merupakan salah satu aplikasi dari bioteknologi tanaman yang merupakan budidaya tanaman yang dikerjakan secara in-vitro (dalam wadah tertutup atau dalam botol). Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture, weefsel cultures atau gewebe kultur.
Kultur jaringan didefinisikan sebagai suatu teknik menumbuhkembangkan bagian tanaman baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi aseptik secara in-vitro, yang dicirikan kondisi kultur yang aseptic, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkontrol.
Sterilisasi dan pembuatan media kultur menjadi alternative pilihan pertama untuk melaksanakan kultur jaringan. Pada saat ini teknik kultur jaringan telah banyak dimanfaatkan dalam usaha pelestarian plasma nutfah tanaman. Keutungan yang dapat diambil dari penggunaan kultur jaringan untuk pelestarian tanaman antara lain efisiensi untuk tanman yang tidak berbiji atau tanaman berbiji rekalsitran, tidak memerlukan ruang atau lahan yang luas, resiko kegagalan karena iklim atau penyakit dapat dihindari, memungkinkan dilakukannya manipulasi genetic dan bibit yang dihasilkan lebih sehat
Prospek kultur jaringan pada masa sekarang cukup menjanjikan menyangkut peningkatan hasil produksi serta peningkatan mutu dan kualitas produksi bibit yang dihasilkan.


2. Tujuan
- Mengetahui prosedur sterilisasi alat-alat penanaman.
- Mengetahui langkah-langkah dalm pembuatan media kultur jaringan.

3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum sterilisasi alat dan pembuatan media kultur ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 November 2007, di Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Tinjauan Pustaka
Teknik Kultur Jaringan adalah mengisolasi bagian tanaman ( sel, jaringan, organ ) seperti daun mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi lengkap dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap ( Husni, A.1997 )
Teknik ini dicirikan oleh kondisi aseptic, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT ( zat pengatur tumbuh ), serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkendali. Kultur jaringan merupakan salah satu aplikasi dari bioteknologi tanaman yang dikerjakan secara in vitro ( Martin, 1994 )
Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organic yang bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan merubah proses fisiologis tumbuhan.Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah sedikit sekali ( Abidin, 1999 )
Dalam kultur jaringan terdapat beberapa aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan tanaman antara lain keseimbangan zat pengaturan zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam media menentukan arah suatu kultur. Auksin dan sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yng sering digunakan dalam kultur jaringan. Sitokinin dan auksin dalam keseimbangan yang tepat berpengaruh terhadap proses organogenesis (Winarsih, dan Priyono, 2000).
Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut:
- Air destilasi (aquadest) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven.
- Hara-hara makro dan mikro.
- Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber eneergi.
- Vitamin, asam amino dan bahan organic lain.
- Zat pengatur tumbuh.
- Suplemen berupa bahan-bahn alami, jika diperlukan.
- Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media (Yusnita,2004 ).
Pembuatan media tumbuh yang terdiri atas campuran garam mineral berisi unsure makro dan unsure mikro, asam amino, vitamin, gula serta hormone tumbuhan dengan perbandingan tertentu. Untuk membuat media cair bahan-bahan dicampur air suling, sedang untuk membuat media padat, bahan-bahan dicampur dengan agar-agar. Media yang sudah dibuat lalu disterilkandalam autoklaf kemudian media ditempatkan dalam botol erlenmeyer (Butcher dan street, 1964).
Autoklaf merupakan sebuah bejana yang dapat diisi air dan ditutup rapat-rapat. Kalau air dipanaskan, uap yang terjadi tidak dapat keluar, sehingga tekanan dalam autoklaf naik sampai lebih tinggi daripada tekanan normal. Pertambahan tekanan menyebabkan air mendidih diatas titik didih normal. Kalau dalam keadaan biasa air mendidih pada suhu 100°C (Narayaswami dan Norstog, 1964).
Sterilitas dengan autoklaf adalah suatu metode sterilitasasi dengan uap air dibawah tekanan. Kapas penyumbat, kasa, peralatan laboratorium, plastic penutup, peralatan gelas, penyaring, pipet, air, dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. Hampir semua mikroba mati apabila terkena uap air yang sangat panas dari autolaf selama 10-15 menit. Semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121o C dan takanan 15 Psi selama 15-20 menit (Teres, 1989).

C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. Peralatan untuk penanaman eksplan
• Laminar Air Flow Cabinet (LAFC)
• Petridish dan botol-botol kultur
• Peralatan direksi, seperti :pinset, pisau pemes, gunting
Alat-alat penanaman, yaitu petridish dan peralatan diseksi dibungkus dengan kertas, kemudian disterilisasi di dalam autoklaf pada tekanan 1,5 kg/cm2 selama 45 menit. Setelah disterilisasi, alat-alat tersebut disimpan di dalam oven
b. Peralatan untuk pembuatan media
• Timbangan analitik
• Botol-botol kultur
• pH meter
• gelas piala
• pipet
• plastic pp 0,3 mm
• karet gelang
• kertas label
2. Bahan
• Aquadest
• Larutan stok
• Agar-agar
• Gula
• NaOH 1 N dan HCl 1 N
3. Cara Kerja
a. Pembuatan Larutan Stok
1) Larutan Stok Media
• Menimbang bahan – bahan kimia yang telah dikalikan menjadi beberapa kali konsentrasi
• Melarutkan bahan-bahan kimiatersebut kedalam aquades dengan volume tertentu
• Memasukkan masing-masing larutan kedalam btol dan menyimpannya ke dalam refigenerator
2) Larutan Stok Zat Pengatur Tumbuh
• Menghiutung kebutuhan bahan BAP 100 pmm sebanyak 300 ml adalah sebagai berikut: 100 ppm = 100 mg/l, >30 mg/300 l
• Menghiutung kebutuhan bahan paclobutrazol 100 pmm sebanyak 100 ml adalah sebagai berikut: 100 ppm = 100mg/l, >10mg/100 l
• Melarutkan bahan dengan alcohol atau NaOH 1 N kemudian ditambah dengan aquadest sampai 300ml untuk BAP dan 100 ml untuk paclobutrazol
• Memasukkkan masing-masing larutan tersebut kedalam botol dan menyimpannyaa ke dalam refigenerator
b. Pembuatan Media
- Mengambil masing-masing larutan stok sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan yaitu:
o NaEDTA FeSO4 = 50 ml / L didapat dari : 10 L / 500 ml = 500 : 10 = 50 ml
o Makro = 50 ml / L didapat dari : 10 L / 500 ml = 500 : 10 = 50 ml
o Mikro = 5 ml / L didapat dari :100 L / 500 ml = 500 : 100 = 5 ml
o Vitamin = 25 ml / L didapat dari : 10 L / 250 ml = 250 : 10 = 20 ml

- Mengambil larutan stok ZPT sesuai dengan perlakuan yaitu ZPT :
o Paklobutrazol = 5 ml / L
o BAP = 20 ml / L
Konsentrasi keduanya 100 ppm
Adapun perhitungannya adalah :
- BAP
V1 x M1 = V2 X M2
V1 x 100 = 1000 x 2
V1 = 20 ml / L
- Paklobutrazol
V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 100 = 1000 x 0,5
V1 = 5 ml / L
Keterangan :
V1 = volume larutan stok yang diambil
M1 = dosis larutan stok yang tersedia
V2 = volume media yang akan dibuat
M2 = dosis media yang akan dibuat

- Memasukkan larutan stok kedalam labu takar kemudian menambahkan aquadest sampai 1000 ml / sampai tanda ( pengenceran larutan stok )
- Memasukkan larutan kedalam beker glas.
- Menambah gula sebanyak 30 gr
- Mengatur pH dengan kisaran 5,8-6,3 dengan menambahkan beberapa tetes NaOH untuk menaikkan pH atau HCl untuk menurunkan pH
- Menambah agar-agar 8 gr kemudian dididihkan
- Menuangkan larutan media ke dalam botol-botol kultur kurang lebih 25 ml tiap botol
- Menutup botol berisi larutan media dengan plastic
- Memasukkan botol-botol berisi media kedalam autoklaf untuk proses sterilisasi pada tekanan 1,5 kg/cm3 selama 45 menit
- Menyimpan media pada rak penyimpan media yang bertujuan untuk mengantisipasi ada tidaknya kontaminasi pada media sehingga dapat dicegah penggunaan media yang telah terkontaminasi pada saat penanaman.

c. Media Penanaman
Dalam praktikum ini, media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS) yang dimodifikasi dengan penambahan ZPT BAP 2 ppm dan Paclobutrazol 0,5 ppm. Media kultur tersebut digunakan untuk penanaman 4 macam eksplan dengan masing-masing eksplan diulang sebanyak 2 kali untuk setiap mahasiswa (praktikan).



DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 1999. Zat Pengatur Tumbuh. WWW. Google. co. id. 9 Januari 2008.
Butcher, D.M and H.E. Street. 1964. Excised Root Culture. The Botanical Review, No. 4 : 513-586.
Husni, A. 1997. Perbanyakan dan Penyimpangan Tanaman Melalui Kultur Jaringan. Buletin Plasma Nutfah. Vol. II (1 ) : 9-13
Martin, B. M. 1994. Tissue Culture Techniques : an introduction. Birkhauser. Boston.
Narayaswami dan Norstog. 1964. Horticultural Tecniques. Storstoch. California.
Terres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques For Horticultural crops. Van Nostrand Relohoid. New York.
Winarsih, S. dan Priyono. 2000. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pembentukan dan Pengakaran Tunas Mikro Pada Asperagus Secara In Vitro. Jurnal Hortikultura. Vol 10 (1): 11-17.
Yusnita. 2004. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman secara Efisien. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Read More....

Kultur Jaringan Wortel

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Wortel adalah sayuran yang umum digunakan dalam sehari-hari. Wortel adalah tanaman umbi semusim yang memiliki kandungan karoten yang tinggi. Selain itu, wortel juga memiliki kandungan gizi tinggi yang sangat penting dan dibutuhkan tubuh terutama kandungan vitamin dan mimeralnya.
Dari segi bisnis, wortel adalah sayuran komersial yang hingga saat ini masih tetap menjadi andalan para pedagang dan para petani yang menanamnya. Para peani menyukai wortel karena dalam penanamannya tidak terlalu banyak menuntut persyaratan. Tanaman wortel relatif mudah ditangani dan dirawat.
2. Tujuan
Praktikum acara V ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui teknik kultur jaringan wortel.
b. Mengetahui pengaruh BAP dan Paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan wortel.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara V ini dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Desember 2007 pukul 09.00 WIB sampai selesai, bertempat di Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.


B. Tinjauan Pustaka
Perbanyakan secara in vitro (kultur jaringan) adalah suatu perbanyakan dengan mengisolasi suatu bagian tanaman. Seperti protoplas sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat berregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Teknik perbanyakan in vitro mempunyai peranan yang paling menonjol dalam bidang perbanyakan cepat suatu tanaman., terbukti teknik ini jauh lebih banyak menghasilkan tanaman dibandingkan perbnyakan secara konvensional ( Hendri, G. 1999)
Media tanam harus berisi semua zat yang diperlukan untuk menjamin pertumbuhan eksplan. Bahan-bahan yang diramu berisi campuran garam-garam mineral sumber unsure hara makro dan mikro, gula, protein, vitamin dan hormone tumbuh. Dengan demikian keberhasilan kultur jaringan jelas ditentukan oleh media tanam dan macam tanaman. Campuran media satu mungkin cocok untuk jenis-jenis tanaman tertentu, tetapi tidak cocok untuk jenis-jenis tanaman lainnya ( Steward and Caplin, 1952 ).
Peran fisiologis sitokinin adalah mendorong pembelahan sel, morfogenesis, pertunasan, pembentukan kloroplas, pembentukan umbi,pemecahan dormansi, pembentukan stomata, pembungaan dan pembentukan buah partenokarpi. Sitokinin juga menghambat senescence dan absisi.Pada media pengumbian umbi mikro, Sitokinin mendorong terbentuknya umbi mikro baik pada eksplan tunas in vitro, buku tunggal tunas umbi maupun pada eksplan buku tunggal tunas in vitro. Induksi umbi mikro oleh sitokinin diduga pada pengaruh sitokinin terhadap metabolisme gula ( Went, 1926 )
Sitokinin adalah kelompok senyawa organic yang menyebabkan pembelahan sel yang di kenal dengan proses sitokinesis. BAP / BA ( 6 – Benzil Amino purin / 6 – Benzil Adenin ) adalah analog sitokinin, pengaruh sitokinin di dalam kultur jaringan tanaman antara lain berhubungan dengan proses pembelahan sel, poliferasi tunas ketiak, penghambatan pertumbuhan akar dan induksi umbi kentang ( Kusumasuasti, 1982 )
Wortel bermanfaat sebagai salah satu obat untuk serangan jantung dan menyempitnya pembuluh darah. Beta karoten yang terkandung dalam wortel terbukti bermanfaat untuk mengurangi resiko kedua jenis penyakit tersebut. Untuk itu beberapa lembaga kesehatan sepeti yayasan kanker menganjurkan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi wortel lebih bnyak lagi (Santoso, 1992).


C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. LAFC lengkap dengan lampu bunsen
b. Petridish dan botol-botol kultur
c. Peralatan diseksi yaitu pinset besar/kecil dan pisau pemes
2. Bahan
a. Eksplan : wortel
b. Media Kultur
c. Alkohol 96%
d. Aquadest steril
e. Spirtus
f. Chlorox (sunclin)
3. Cara Kerja
a. Mempersiapkan eksplan
b. Sterilisasi eksplan (dilakukan dalam LAFC)
• Memasukkan eksplan yang sudah dipotong (± 1 cm) ke dalam alcohol dan membakarnya minimal dengan pengulangan sebanyak 2 kali.
c. Penanaman eksplan
• Membuka plastik penutup botol media kultur.
• Mengambil eksplan dan menanamnya di media kultur dengan pinset. Setelah digunakan, pinset harus selalu dibakar di atas api.
• Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk menghindari kontaminasi.
d. Pemeliharaan
• Menempatkan botol-botol media berisi eksplan pada rak-rak kultur.
• Menjaga suhu, kelembaban dan pencahayaan lingkungan di luar botol.
• Menyemprot botol-botol kultur dengan spirtus setiap 2 hari sekali untuk mencegah kontaminasi.
e. Melakukan Pengamatan selama 5 minggu,meliputi:
• Saat muncul akar, tunas, daun dan kalus (HST), diamati setiap hari.
• Jumlah akar, tunas dan daun, diamati 1 minggu sekali.
• Deskripsi kalus (struktur dan warna kalus) pada akhir pengamatan.
• Persentase keberhasilan, pada akhir pengamatan.

D. Hasil dan Pembahasan
1. Analisis Hasil Pengamatan
Perhitugan Persentase Keberhasilan
Eksplan wortel yang masih hidup = 0
Persentase Keberhasilannya =
= 0 %
2. Pembahasan
Tehnik perlakuan pada eksplan wortel ini kurang lebih sama dengan eksplan lainnya kecuali pada sterilisasi eksplannya. Adapun tehnik sterilisasinya adalah dengan membakar eksplan menggunakan alcohol diulang sebanyak 2 kali atau lebih.Sterilisasi eksplan wortel ini di lakukan di dalam laminair air flow. Cara sterilisasi ini adalah teknik sterilisasi eksplan secara fisis yang biasa diberlakukan bagi jaringan yang tebal dan berlapis seperti wortel pada eksplan acara ini.
Pada praktikum terakhir ini, sama sekali tidak mempunyai eksplan yang hidup. Eksplan semuanya mati karna busuk ( mengalami pencoklatan yang mungkin disebabkan adanya memar saat pemotongan ) dan terkena kontaminasi. Tidak sama dengan eksplan lain, eksplan wortel ini terkontaminasinya sangat cepat dan sama sekali tidak ada yang bertahan dalam keadaan stagnan. Bahkan eksplan yang adalah contoh yang di tanam oleh co-as juga mati. Semua kematiannya terjadi dalam waktu tidak lebih dari 7 HST.
Semua eksplan wortel habis, mati terkontaminasi. Sama dengan kontaminasi eksplan lainnya, kontaminasi ditandai dengan adanya jamur yang berwarna kecoklatan, kehijauan, kekuningan, kehitaman dan ada juga jamur yang berwarna putih. Kontaminasi sangat umum terjadi saat kultur jaringan, adalah gangguan yang tidak dapat dielakkan.
Berhubung semua eksplan mati atau terkontaminasi maka presentase keberhasilan kultur jaringan wortel ini adalah 0 %. Adalah nilai prosentase terkecil jika dibandingkan dengan nilai prosentase keberhasilan pada eksplan lainnya.
Ini membuktikan bahwa penanaman kultur jarigan wortel adalah penanaman yang paling sulit karna mudah terkontaminasi. Diantara penyebab kontaminasi yang terjadi adalah karna banyak hal misalnya sterilisasi alat yang kurang optimal / steril; Adanya pengaruh fisik atau biokimia pada eksplan yang kurang bagus (memar, pengupasan, pemotongan, serangan penyakit atau kondisi lain yang tidak normal), bisa juga eksplan telah mengalami gejala alamiah dari proses penuaan tapi tetap dipakai; Sterilisasi eksplan yang mungkin terlalu lama dalam perendaman chlorox sehingga eksplan “terlalu steril” sehingga malah tidak dapat hidup / tumbuh; Saat penanaman praktikan terlalu banyak bicara,tanpa sengaja tangan praktikan keluar dari laminair air flow dan masuk lagi tanpa sterilisasi pada saat penanaman; Mungkin juga karna pemeliharaannya yang tidak cukup baik dalam penjagaan suhu, kelembaban, dan pencahayaannya serta karna kurang rutinnya penyemprotan spirtus sehingga menimbulkan kontaminasi; Hal lain lagi yang bisa menyebabkan kegagalan adalah pada pembuatan media, baik karna komposisi medianya yang kurang optimal atau karna pH media yang kurang tepat.
Dan menurut saya yang paling rawan sebagai penyebab kontaminasi adalah karna pembakaran pada saat sterilisasi eksplan, pemotongan ekspan yang kurang hati-hati maka melukai jaringan eksplan dan penggunaan komposisi media.


E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum acara V ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Teknik kultur jaringan wortel dapat diketahui dengan menanam eksplan wortel pada media yang telah melalui tahap sterilisasi.
b. Semua ulangan dalam penanaman eksplan mawar mengalami kegagalan atau mati karena akibat terkontaminasi.
c. Pengaruh BAP dan Paclobutrazol belum dapat dilihat pengaruhnya pada penanaman eksplan wortel yang dikarenakan semua eksplan mengalami kontaminasi.

2. Saran
Mengulangi lagi percobaan ini agar dapat diketahui pengaruh BAP dan Paclobutrazol secara tepat pada Anggur serta lebih menjaga kesterilan tempat dan diri.


DAFTAR PUSTAKA

Hendri, G. 1999. Kultur Jaringan. http : / www. Edukasi. Com. 9 Desember 2008.
Kusumasuasti. 1982. Kultur Jaringan dan Pemanfaatannya di Bidang Perkebunan kentang. Menara Perkebunan 50 (2). Hal : 43-47.
.Santoso, H.S. 1992. Wortel Tetap Menguntungkan. Penebar Swadaya. Jakarta
Steward, F.C. and S. M. Caplin. 1952. Investigations on Growth and Metabolism of Plant Cells. Ann. Of Bot. vol. 16 : 491-504.
Went, F.W. 1926. Plant Growth Substance in Agriculture. San Fransisco.

Read More....

Teknik Kultur Jaringan

Teknik Kultur Jaringan yaitu mengisolasi bagian tanaman ( sel, jaringan, organ ) seperti daun mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi lengkap dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap ( Husni, A.1997 )
Teknik ini dicirikan oleh kondisi aseptik, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT ( zat pengatur tumbuh ), serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkendali. Kultur jaringan merupakan salah satu aplikasi dari bioteknologi tanaman yang dikerjakan secara in vitro ( Martin, 1994 )
Zat pengatur tumbuh pada tanaman yaitu senyawa organic yang bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan merubah proses fisiologis tumbuhan.Zat pengatur tumbuh hanya diperlukan dalam jumlah sedikit sekali ( Abidin, 1999 )


Dalam kultur jaringan terdapat beberapa aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan tanaman antara lain keseimbangan zat pengaturan zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam media menentukan arah suatu kultur. Auksin dan sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yng sering digunakan dalam kultur jaringan. Sitokinin dan auksin dalam keseimbangan yang tepat berpengaruh terhadap proses organogenesis (Winarsih, dan Priyono, 2000).
Komponen media kultur yang lengkap sebagai berikut:
- Air destilasi (aquadest) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solven.
- Hara-hara makro dan mikro.
- Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energi.
- Vitamin, asam amino dan bahan organic lain.
- Zat pengatur tumbuh.
- Suplemen berupa bahan-bahn alami, jika diperlukan.
- Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media (Yusnita,2004 ).
Pembuatan media tumbuh yang terdiri atas campuran garam mineral berisi unsure makro dan unsure mikro, asam amino, vitamin, gula serta hormone tumbuhan dengan perbandingan tertentu. Untuk membuat media cair bahan-bahan dicampur air suling, sedang untuk membuat media padat, bahan-bahan dicampur dengan agar-agar. Media yang sudah dibuat lalu disterilkandalam autoklaf kemudian media ditempatkan dalam botol erlenmeyer (Butcher dan street, 1964).
Autoklaf merupakan sebuah bejana yang dapat diisi air dan ditutup rapat-rapat. Kalau air dipanaskan, uap yang terjadi tidak dapat keluar, sehingga tekanan dalam autoklaf naik sampai lebih tinggi daripada tekanan normal. Pertambahan tekanan menyebabkan air mendidih diatas titik didih normal. Kalau dalam keadaan biasa air mendidih pada suhu 100°C (Narayaswami dan Norstog, 1964).
Sterilitas dengan autoklaf yaitu suatu metode sterilitasasi dengan uap air dibawah tekanan. Kapas penyumbat, kasa, peralatan laboratorium, plastic penutup, peralatan gelas, penyaring, pipet, air, dan media nutrisi dapat disterilisasi dengan autoklaf. Hampir semua mikroba mati apabila terkena uap air yang sangat panas dari autolaf selama 10-15 menit. Semua obyek hendaknya disterilisasi pada suhu 121o C dan takanan 15 Psi selama 15-20 menit (Teres, 1989).

Read More....